Jumat, 30 November 2012

Sejarah dan Perkembangan "TAREKAT HALWATIYAH" [1]


Umumnya, nama sebuah tarekat sufi diambil dari nama pendirinya. Seperti Tarekat Qadiriyah dari Syekh Abdul Qadir al-Jilany atau Tarekat Naqsyabandiyah dari Muhammad Bahauddin Naqsyabandi. Namun Tareka Khalwatiyah justru diambil dari kata 'khalwat' yang artinya menyendiri untuk merenung. Secara nasab, Tarekat Khalwatiyah merupakan cabang dari Tarekat Az-Zahidiyah, cabang dari Al-Abhariyah, dan cabang dari As-Suhrawardiyah yang didirikan oleh Syekh Syihabuddin Abi Hafsh Umar As-Suhrawardi al-Baghdadi [tahun 539-632 H]. Menurut John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern, ajaran Tarekat Khalwatiyah pertama kali muncul di wilayah Asia Tengah pada abad ke-15 M, yakni saat Dinasti Usmaniyah berkuasa. Dalam waktu satu abad, tarekat ini telah menjelma menjadi tarekat sufi yang paling luas dan menyebar di wilayah kesultanan Islam tersebut. Meskipun dalam perkembangannya mengalami saat-saat kemandekan, kemunduran dan kebangkitan kembali. Kebangkitan kembali Khalwatiyah diprakarsai oleh, Musthafa Ibnu Kamal al-Din al-Bakri [tahun 1688-1748 M]. Al-Bakri merupakan seorang penyair sufi asal Damaskus, Suriah, yang menjalani hampir seluruh kehidupannya di Yerusalem. Ia mengambil tarekat tersebut dari gurunya yang bernama Syekh Abdul Latif bin Syekh Husamuddin al-Halabi. Musthafa al-Bakri sejak kecil dikenal sebagai seorang zahid yang cerdas. Dalam salah satu bukunya, ia menceritakan bahwa dirinya pernah mengalami kehidupan sebatangkara. Kedua orang tuanya bercerai saat ia berusia dua tahun. Ia kemudian tinggal bersama ayahnya setelah ibunya menikah lagi. Semasa hidupnya, al-Bakri senang bepergian, terutama ke negeri-negeri di kawasan Timur Tengah. Hal itu ia lakukan untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Ia pun belajar pada guru-guru yang berilmu tinggi. Beberapa tempat yang pernah ia kunjungi adalah palestina, Tripoli, Makkah, Baghdad, Basrah, dan Mesir. Khalwatiyah mengalami perkembangan pesat di Mesir ketika di pimpin oleh murid al-Bakri, Muhammad Ibnu Salim al-Hifni [tahun 1689-1768 M]. Pada pertengahan abad ke-18 M, Khalwatiyah menjadi tarekat sufi yang dominan di negeri berjuluk seribu menara itu. Selama lebih dari delapan puluh tahun [tahun 1757-1838 M], kedudukan Syekh Al-Azhar di pangku oleh penganut Khalwatiyah. Dengan diilhami oleh al-Bakri, al-Hifni menjadikan Khalwatiyah di Mesir sebagai tarekat yang berorientasi syariat. Ia juga berusaha merangkul semua kalangan, tidak hanya para ulama terkemuka, tetapi juga orang kebanyakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar