Senin, 04 Februari 2013

Cara Membuat Background Sambaran Petir Di Blog



Bagi para pemula blogger contohnya seperti saya pasti banyak yang menginginkan background blognya di ganti dengan foto sendiri atau gambar yang mereka inginkan sendiri. Kali ini saya akan menulis artikel tentang 'Membuat Background Kilat Di Blog'.

Ikuti langkah berikut untuk membuat background blog :

1. login ke bloger dengan id anda
2. Lalu menuju ke 'design' -> edit HTML
3Centang Expand Template Widget
3. Cari kode  body {
4. Tambahkan kode berikut di bawah kode ' body { ' 

background:#000000 url(http://petir-project.googlecode.com/files/zuaz-petir.gif) no-repeat center fixed; 
  • Kode ungu = Kode warna di belakang background 
  • Kode Biru  = Link/url background kilat / url background lain yang ingin dipasang 
  • Kode merah = Jika inginkan gambar berulang-ulang hilangkan saja

5. Lalu 'Save Template' dan lihat hasilnya.

Semoga bermanfaat ya,,,!!!

CARA MEMBUAT RATING BINTANG DI POSTING BLOG

Cara Membuat Rating Bintang Di Posting Artikel Blog adalah cara yang sama dengan cara membuat & menampilkan rating bintang di Google namun beda penampilan. Jika cara membuat rating bintang di posting artikel blog akan menampilkan tombol rating bintang secara otomatis disetiap artikel blog yang akan membantu pengunjung blog memberikan penilaian terhadap artikel yang dibacanya. Sedangkan cara membuat & menampilkan rating bintang di Google, akan membantu artikel blog lebih banyak dikunjungi oleh pengunjung melalui search engine karena adanya nilai pageview yang tampil. Semakin tinggi nilai pageviewnya, semakin banyak pengunjung yang akan membaca artikel blog dan itu pun juga tergantung dari posisi SERP artikel di search engine. Jika posisi SERP ada di halaman belakang, ya sama saja hasilnya nol! :)

Cara Membuat Rating Bintang Di Posting Artikel Blog

Berikut Panduan Cara Membuat Rating Bintang Di Posting Artikel Blog
  1. Masuk ke akun blogger melalui Draft.Blogger.com
  2. Pilih dan klik Tata Letak
  3. Klik edit pada tab kolom Posting Blog
    Cara Membuat Rating Bintang Di Posting Artikel Blog
  4. Tampil halaman pop-up seperti berikut ini
    Cara Membuat Rating Bintang Di Posting Artikel Blog
  5. Beri tanda pada check box Show Star Rating
  6. Selanjutnya beralih ke dashboard blogger anda...
  7. Pilih dan klik Template >> Edit Html >> Lanjutkan >> centang Expand Template Widget >> tekan Ctrl + F di keyboard
  8. Cari kode <data:post.body/> atau <p><data:post.body/></p>
  9. Tempatkan kode berikut dibawah <data:post.body/> atau <p><data:post.body/></p> atau komponen yang menyertainya seperti Artikel terkaitTombol sosial bookmark, Permalink blog, dll.
    <span class='star-ratings'>
    <b:if cond='data:top.showStars'>
    <div expr:g:background-color='data:backgroundColor' expr:g:text-color='data:textColor' expr:g:url='data:post.absoluteUrl' g:height='42' g:type='RatingPanel' g:width='280'/>
    </b:if>
    </span>
  10. Simpan template dan lihat hasilnya seperti yang tampak pada artikel blog ini yang berdampingan dengan tombol sosial bookmark

CARA MEMBUAT BACKGROUND ENTRI

Cara membuat background entri atau posting blog.
maksud saya adalah memberi gambar dibelakang postingan seperti yang terlihat di posting saya ini.gambar yang digunakan bisa berformat apa saja

tutorial pemasangannya sebagai berikut :
1.pertama anda LOGIN ke akun bloger
2.masuk dan buatlah ENTRI baru
3.kli tombol HTML (letaknya disamping COMPOSE)
4.copy paste code warna biru berikut :

<div style="background: url(&quot;URL Gambar yang ingin dijadikan Background&quot;) no-repeat scroll center transparent; text-align: justify;">Isi Artikel</div>

keterangan :

code warna hitam silahkan anda ganti dengan URL GAMBAR yang ingin dijadikan background dan untuk ISI ARTIKEL silahkan anda ganti dengan isi posting..

sekian untuk Cara membuat background entri

SELAMAT MENCOBA




Cara membuat Tombol Spoiler Di Posting Blog

Spoiler adalah sebuah Tombol untuk menyembunyikan atau menampilkan Gambar, Tesk , Link , Script, Dan 
Yang Lain-Lain. Spoiler juga bermanfaat untuk Menghemat Tempat, Membuat orang penasaran, Dan Masih Banyak Lagi. Bagaimana Cara membuat Tombol Spoiler di Posting Blog?, Berikut Caranya:
  • Buat Postingan seperti biasa Anda buat.
  • Klik Tombol HTML Di kanan Posting.
  • Masukan Kode berikut Ini:
<div id="spoiler" style="display:none">
Masukan Konten yang akan Disembunyikan.
</div>
<button title="Klik untuk melihat/menyembunyikan" type="button" onclick="if(document.getElementById('spoiler') .style.display=='none') {document.getElementById('spoiler') .style.display=''}else{document.getElementById('spoiler') .style.display='none'}">Buka/Tutup</button>

Keterangan:
Ganti Kode Berwarna Merah dengan Koten yang akan anda sembunyikan seperti Link, Teks, Script, Gambar. Ganti Kode Berwarna Biru dengan Deskripsi Spoiler yang anda mau. Ganti Kode Berwarna Ungu dengan Judul Spoiler.

Contoh Spoiler Seperti Ini:

 



Selamat Mencoba,
Salam Sukses.

Selasa, 15 Januari 2013

Adobe Photoshop CS6 Extended Full Serial Crack


 hai sobat oa515.blog..udah lama saya gak posting..kali ini saya akan share software photo editing buat sobat bloger semua Oke, langsung aja di cek Adobe Photoshop CS6 Extended Full Serial Crack nya.


Di photoshop terbaru ini kita tidak akan menjumpai tampilan halaman kerja yang cerah seperti di versi sebelumnya, karena di photoshop CS6 tampilan defaultnya didominasi oleh warna-warna yang gelap namun memiliki kesan tampilan yang modern. Untuk fitur, ada banyak sekali yang baru di Adobe Photoshop CS6, untuk lebih lengkapnya anda bisa cek di "http://www.adobe.com/products/photoshop/features.html".

Cara Install & Aktivasi Adobe Photoshop CS6 Full Serial Crack :

  1. Download semua part nya (dari part 1 sampai 8), kemudian gabungkan (join) dengan menggunakan aplikasi FSJ - File splitter & joiner.
  2. Setelah berhasil, anda akan mendapatkan 1 buah file rar dengan ukuran kurang lebih 1.12 Gb. Silahkan di ekstrak di mana saja.
  3. Berhasil di ekstrak, anda akan menemukan file "Photoshop CS6 - www.remo-xp.com.iso". Silahkan di mount dulu file isonya menggunakan Daemon Tools atau anda bisa burn ke DVD.
  4. Selanjutnya klik 2x file "Photoshop_13_LS16.exe". Biarkan proses ekstrak hingga selesai.
  5. Coba cek desktop anda, maka anda akan menemukan 1 buah folder yang bernama Adobe CS6.
  6. Sekarang disconnect internet anda, dan lanjutkan dengan melakukan install photoshopnya CS6 nya.
  7. Ketika akan memulai proses instalasi, anda akan diminta memasukan serial. Silahkan gunakan serial yang terdapat dalam paket download. (Internet harus disconnect).
  8. Selesai melakukan instalasi, selanjutnya copy file yang berada dalam folder crack (sesuaikan dengan versi bit windows anda dan photoshop yang anda install, 32 apa 64) ke "C:\Program Files (x86)\Adobe\Adobe Photoshop CS6" untuk pengguna windows 32bit dan "C:\Program Files\Adobe\Adobe Photoshop CS6" untuk pengguna 64 bit.
  9. Selesai, kini Adobe Photoshop CS6 anda sudah full version.

System requirements of Adobe Photoshop CS6 Extended :

  • Intel® Pentium® 4 or AMD Athlon® 64 processor
  • Microsoft® Windows® XP* with Service Pack 3 or Windows 7 with Service Pack 1
  • 1GB of RAM
  • 1GB of available hard-disk space for installation; additional free space required during installation (cannot install on removable flash storage devices)
  • 1024x768 display (1280x800 recommended) with 16-bit color and 256MB (512MB recommended) of VRAM
  • OpenGL 2.0–capable system
  • DVD-ROM drive
  • This software will not operate without activation. Broadband Internet connection and registration are required for software activation, validation of subscriptions, and access to online services.† Phone activation is not available.
Password : www.remo-xp.com
Download Adobe Photoshop CS6 Full Serial Crack :
Part1 | Part2 | Part3 | Part4 | Part5 | Part6 | Part7 | Part8 (All links fixed on 12-08-2012)

sumber: http://www.remo-xp.com

Adobe Photoshop CS6 13.0 Repack Only 164 MB




Postingan kali ini saya akan membagikan Adobe Photoshop CS6 13.0 Repack yang gak perlu di aktifkan lagi atau di sebut Silent Instal, yang hanya 164 MB.Untuk versi ini saya sendiri tidak tau apa saja yang di kurangi sampai filenya bisa sekecil itu, tapi work 100% (saya sudah coba). Versi ini sepertinya juga tidak ada masalah dengan pemasangan plugin, karena beberapa plugin saya tetap berjalan di Adobe Photoshop CS6 13.0 Repack ini nah bagi yang mau mencobanya silahkan Download.



sumber: http://www.remo-xp.com

Sabtu, 29 Desember 2012

Download Software Kasir Gratis

Download Software Kasir Gratis - Holla sobat oa515, udah lama nih kita ga berjumpa :D. Pada kesempatan kali ini, saya akan share ke kalian semua Software Kasir Toko gratis. Yaitu software kasir toko dari Jeking Point Of Sale. Jeking Point Of Sale adalah salah satu software kasir toko yang bisa sobat dapatkan secara gratis. Seperti apa yang saya jelaskan pada Software Toko Program Kasir Terbaik, software kasir ini berfungsi untuk mengontrol aktifitas penjualan barang anda, mengontrol stok barang yang ada dan lain lain.
download program kasir toko gratis
Software Kasir Toko ini akan membantu sobat melewati semua hambatan dalam menjual barang di toko sobat. Jeking point of sale memiliki banyak sekali kelebihan fitur yang dapat sobat manfaatkan dalam berjualan di toko. Silahkan sobat Download Software Kasir Gratis di bawah ini

Kelebihan Software Kasir Jeking:
  • Mudah digunakan sehingga sobat dapat melakukan perbandingan dengan software kasir toko yang lain
  • Fasilitas dan fitur-fiturnya lengkap
  • Bisa digunakan untuk usahan toko handphone, restoran retail, toko komputer, toko alat-alat tulis (stationery) dan lain lain
  • Ukuran software kasirnya (file size) kecil
  • Bisa sobat dapatkan dengan harga Rp. 0 alias gratis
  • Multiuser, pembacaan barcode dll
download software kasir gratis

download software kasir gratis

Fitur utama Software Kasir Jeking:


Penjualan
  • Transaksi Penjualan
  • Transaksi Pembelian
  • Transaksi Kas Masuk
  • Transaksi Kas Keluar
  • dll
Tabel Barang
  • Data jumlah barang
  • Data pemasok barang
  • Data barang terjual
  • dll
Jurnal Penjualan
  • Laporan Umum
  • Laporan Penjualan
  • Laporan Pembelian
  • Laporan Kas Masuk
  • dll
Label/barcode
  • Pembuatan label /barcode
  • Pengaturan
  • dll
Dan masih banyak lagi
Setelah menginstall, bukalah Jeking point of sale di start menu ataupun di desktop. Pilih default user, JEKING. Dengan kata sandi 1. Lalu mulailah sobat membuat data barang di Tabel Barang.
Download Software Kasir Gratis dan Download Program Kasir Toko Gratis

Jumat, 30 November 2012

Sejarah dan Perkembangan "TAREKAT HALWATIYAH" [1]


Umumnya, nama sebuah tarekat sufi diambil dari nama pendirinya. Seperti Tarekat Qadiriyah dari Syekh Abdul Qadir al-Jilany atau Tarekat Naqsyabandiyah dari Muhammad Bahauddin Naqsyabandi. Namun Tareka Khalwatiyah justru diambil dari kata 'khalwat' yang artinya menyendiri untuk merenung. Secara nasab, Tarekat Khalwatiyah merupakan cabang dari Tarekat Az-Zahidiyah, cabang dari Al-Abhariyah, dan cabang dari As-Suhrawardiyah yang didirikan oleh Syekh Syihabuddin Abi Hafsh Umar As-Suhrawardi al-Baghdadi [tahun 539-632 H]. Menurut John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern, ajaran Tarekat Khalwatiyah pertama kali muncul di wilayah Asia Tengah pada abad ke-15 M, yakni saat Dinasti Usmaniyah berkuasa. Dalam waktu satu abad, tarekat ini telah menjelma menjadi tarekat sufi yang paling luas dan menyebar di wilayah kesultanan Islam tersebut. Meskipun dalam perkembangannya mengalami saat-saat kemandekan, kemunduran dan kebangkitan kembali. Kebangkitan kembali Khalwatiyah diprakarsai oleh, Musthafa Ibnu Kamal al-Din al-Bakri [tahun 1688-1748 M]. Al-Bakri merupakan seorang penyair sufi asal Damaskus, Suriah, yang menjalani hampir seluruh kehidupannya di Yerusalem. Ia mengambil tarekat tersebut dari gurunya yang bernama Syekh Abdul Latif bin Syekh Husamuddin al-Halabi. Musthafa al-Bakri sejak kecil dikenal sebagai seorang zahid yang cerdas. Dalam salah satu bukunya, ia menceritakan bahwa dirinya pernah mengalami kehidupan sebatangkara. Kedua orang tuanya bercerai saat ia berusia dua tahun. Ia kemudian tinggal bersama ayahnya setelah ibunya menikah lagi. Semasa hidupnya, al-Bakri senang bepergian, terutama ke negeri-negeri di kawasan Timur Tengah. Hal itu ia lakukan untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Ia pun belajar pada guru-guru yang berilmu tinggi. Beberapa tempat yang pernah ia kunjungi adalah palestina, Tripoli, Makkah, Baghdad, Basrah, dan Mesir. Khalwatiyah mengalami perkembangan pesat di Mesir ketika di pimpin oleh murid al-Bakri, Muhammad Ibnu Salim al-Hifni [tahun 1689-1768 M]. Pada pertengahan abad ke-18 M, Khalwatiyah menjadi tarekat sufi yang dominan di negeri berjuluk seribu menara itu. Selama lebih dari delapan puluh tahun [tahun 1757-1838 M], kedudukan Syekh Al-Azhar di pangku oleh penganut Khalwatiyah. Dengan diilhami oleh al-Bakri, al-Hifni menjadikan Khalwatiyah di Mesir sebagai tarekat yang berorientasi syariat. Ia juga berusaha merangkul semua kalangan, tidak hanya para ulama terkemuka, tetapi juga orang kebanyakan.

Sejarah dan Perkembangan "TAREKAT HALWATIYAH" [2]



Cabang Khalwatiyah, Pengikut Khalwatiyah dari kalangan ulama tidak hanya berasal dari kota-kota di penjuru Mesir. Para ulama Maghribi yang tengah menunaikan ibadah haji ke Makkah pada abad ke 18 M, dan singgah di Kairo jumlahnya terus meningkat. Sebagian dari mereka sangat terpengaruh oleh al-Hifni dan para Syekh Khalwatiyah pengganti al-Hifni, seperti Mahmud al-Kurdi [tahun 1715-1780 M] dan Ahmad al-Dardir [tahun 1715-1786 M]. Berkat peran dari para ulama Maghribi ini, dua tarekat sufi berkembang di Maghribi sebagai turunan Khalwatiyah. Muhammad Ibnu Abd al-Rahman al-Azhari [tahun 1713-1793 M] menyebarkan Khalwatiyah di Aljazair. Lahirlah cabang baru Khalwatiyah yang bernama Rahmaniyah. Al-Azhari pula yang mengantarkan Sidi Ahmad al-Tijani, pendiri Tarekat Tijaniyah, bergabung dengan Khalwatiyah. Al-Tijani mempelajari rahasia-rahasia Mahmud al-Kurdi di Kairo dan Muhammad Ibnu al-Karim al-Samman di Madinah. Al-Samman mempunyai murid dari Indonesia bernama Abdul al-Samad al-Palimbani [tahun 1703-1788 M], yang kemudian mengajarkan Tarekat Sammaniyah di Tanah Air [Sumatera]. Seorang muridnya lagi berasal dari Sudan yang bernama Ahmad al-Tayyib Ibnu al-Basyir [wafat tahun 1823 M], lalu ia menyebarkan tarekat ini disana. Pada abad ke-19 M, tiga cabang Khalwatiyah tersebut membangkitkan gerakan melawan penjajah di pelbagai wilayah di Afrika. Rahmaniyah memimpin pemberontakan melawan Prancis di Aljazair pada tahun 1871 M. Sementara itu, al-Hajj Umar al-Futi memprakarsai jihad Tijaniyah di Afrika Barat. Di Mesir, kegiatan-kegiatan Khalwatiyah bersama dengan perhimpunan sufi lainnya diatur dan diawasi secara ketat oleh pemerintah berdasarkan dekrit Muhammad Ali pada tahun 1812 M. Hampir satu setengah abad kemudian, pemerintah otoriter lainnya, yaitu pemerintahan Gamal Abdul Nasser, berupaya membatasi gerakan dan sumber daya ekonomi tarekat-tarekat sufi. Dalam daftar tentang tarekat-tarekat sufi yang berkembang di Mesir, yang disusun pada tahun 1964 M, tercatat ada 10 cabang Khalwatiyah meskipun sebagian besar tidak aktif. Sementara itu, di Turki tarekat-tarekat sufi dinyatakan terlarang pada tahun 1925 M, sebagi-bagian dari program pembaruan penguasa Turki saat itu, Mustafa Kemal Attaturk. Akan tetapi, tarekat-tarekat sufi tetap bergerak di bawah tanah dan mulai muncul kembali dalam kehidupan publik pada akhir tahun 1950-an. Khalwatiyah merupakan bagian dari proses kebangkitan Islam abad ke-20 itu. Di wilayah Balkan, sejumlah pusat tarekat Khalwatiyah terus berkembang, khususnya di Albania. Di sini, Khalwatiyah mampu bertahan hidup di bawah rezim komunis.

Sejarah dan Perkembangan "TAREKAT KHALWATIYAH" [3]



Ritual dan Ajaran Khalwatiyah.

Ajaran tarekat sufi yang disampaikan oleh Musthafa Ibnu Kamal al-Din al-Bakri banyak diambil dari sang guru, Syekh Abdul Latif bin Syekh Husamuddin al-Halabi. Berbagai ritual yang dijalankan oleh Syekh Abdul Latif telah memberi pengaruh pada pemikiran atau pun praktek kehidupan al-Bakri sehari-hari. Menurut John L Esposito dalam Ensiklopedia Oxford: Dunia Islam Modern, tiga unsur dalam ajaran al-Bakri-lah yang barangkali turut memberi andil dalam menghidupkan kembali Tarekat Khalwatiyah. Ketiga unsur tersebut adalah:
1. Tuntutan kepatuhan yang ekslusif pada tarekat dan disiplin yang ketat dalam menjalankan amalan Khalwatiyah.
2. Partisipasi orang awam dalam ritual tarekat.
3. Ketaatan pada syari'ah. Sebagai tarekat yang berorientasi pada syari'ah.

Khalwatiyah menekankan penggabungan pengetahuan ['ilm] dan praktek ['amal]. Ia juga menuntut pengikatan hati [rabth al-qalb] seorang murid kepada guru [syekh] sedemikian rupa sehingga hubungan antara keduanya harus lebih erat dari pada hubungan antara seorang ayah dan anak. Selain melakukan khalwah [mengasingkan diri], berbagai amalan praktis lainnya yang diajarkan dalam Khalwatiyah adalah:
- Berdiam diri [shamt],
- Menjaga diri [sahar],
- Mengingat Allah Subhanahu wata'ala [dzikir],
- Dan membaca secara berjamaah [wirid al-Sattar].

Wirid ini merupakan pusat dan puncak ritual Khalwatiyah. Seperti tarekat sufi lainnya, Tarekat Khalwatiyah juga mengenal sebuah amalan al-Asma' as-Sab'ah [tujuh nama]. Yakni, tujuh macam dzikir atau tujuh tingkatan jiwa yang harus di baca oleh setiap murid [salik].
- Dzikir pertama adalah La Ilaaha Illallah [pengakuan, bahwa tiada Tuhan selain Allah Subhanahu wata'ala]. Dzikir pada tingkat pertama ini disebut an-Nafs al-Ammarah [nafsu yang bermuara pada keburukan dan amarah]. Jiwa pada tingkatan ini dianggap sebagai jiwa yang paling kotor dan selalu menyuruh pemiliknya untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat, seperti mencuri [merampok-korupsi], berzina, membunuh, dan lain-lain.
- Kedua. Dzikir pada Allah Subhanahu wata'ala, Pada tingkatan kedua ini disebut an-Nafs al-Lawwamah [jiwa yang menegur]. Jiwa ini dianggap sebagai jiwa yang sudah bersih dan selalu menyuruh kebaikan-kebaikan pada pemiliknya serta menegurnya jika ada keinginan untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk.

Sejarah dan Perkembangan "TAREKAT KHALWATIYAH" [4-Habis]


by Jerry on 12:32 PM, 24-Aug-12
- Ketiga, Huwa [Dia]. Dzikir pada tingkatan ketiga ini disebut an-Nafs al-Mulhamah [jiwa yang terilhami]. Jiwa ini dianggap yang terbersih dan telah diilhami oleh Allah subhanahu wata'ala sehingga bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk.
- Keempat, Haq [Maha benar]. Tingkatan jiwa ini disebut an-Nafs al-Muthmainnah [jiwa yang tenang]. Jiwa ini, selain bersih, juga dianggap tenang dalam menghadapi segala problem hidup ataupun guncangan jiwa lainnya.
- Kelima, Hay [Maha hidup]. Dzikir pada tingkatan ini disebut juga dzikir an-Nafs ar-Radhiyah [jiwa yang ridha]. Jiwa ini semakin bersih, tenang, dan ridha [rela] terhadap apa yang menimpa pemiliknya, karena semua itu semata-mata pemberian Allah subhanahu wata'ala.
- Keenam, Qayyum [Maha jaga]. Tingkatan jiwa ini disebut juga an-Nafs Mardhiyah [jiwa yang diridhai]. Jiwa ini semakin bersih, tenang, dan ridha terhadap semua pemberian Allah subhanahu wata'ala serta juga mendapatkan keridhaan-Nya.
- Ketujuh, Qahhar [Maha perkasa]. Jiwa ini disebut juga an-Nafs al-Kamilah [jiwa yang sempurna]. Dan, inilah jiwa terakhir atau puncak jiwa yang paling sempurna yang akan terus mengalami kesempurnaan selama hidup pemiliknya.

Inti dari tujuh tingkatan dzikir tersebut didasarkan kepada ayat-ayat Al-Qur'an:
- Tingkatan pertama didasarkan firman Allah subhanahu wata'ala: "Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan." [QS. Yusuf 53].
- Tingkatan kedua, Allah berfirman:
"Dan, Aku tidak bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali [menegur dirinya]." [QS. al-Qiyamah 2].
- Tingkatan ketiga dari Allah berfirman:
"Demi jiwa dan yang menyempurnakannya. Lalu menunjukkan kepadanya [jalan] kejahatannya dan [jalan] kebaikannya." [QS. as-Syams 7-8].
- Tingkatan keempat, Allah berfirman:
''Wahai jiwa yang tenang.'' [QS. al-Fajr 27].
- Tingkatan kelima dan keenam, Allah berfirman:
''Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.'' [QS. al-Fajr 28].
- Sementara itu, untuk tingkatan ketujuh yang sudah sempurna atau yang berada diatas semua jiwa, secara eksplisit tidak ada dalam Al-Qur'an, karena kitab suci ini seluruhnya merupakan kesempurnaan dari semua dzikir dan jiwa pemiliknya.

Tarekat Sammaniyah Berkembang Di Afrika Utara



Di samping Naqsyabandiyah, Syattariyah, Qadiriyah dan Syadziliyah, umat Islam juga mengenal adanya Tarekat Sammaniyah. Tarekat Sammaniyah merupakan salah satu cabang dari Tarekat Syadziliyah yang didirikan oleh Abu Hasan Ali asy-Syadzili [wafat 1258] di Mesir. Pendiri Tarekat Sammaniyah adalah Muhammad bin Abdul Karim as-Samani al-Hasani al-Madani [tahun 1718-1775 M]. Tarekat ini berhasil membentuk jaringan yang sangat luas dan mempunyai pengaruh besar di kawasan utara Afrika, yaitu dari Maroko sampai ke Mesir. Bahkan, memperoleh pengikut di Suriah dan Arabiah. Aliran tarekat ini lebih banyak menjauhkan diri dari pemerintahan dan penguasa serta lebih banyak memihak kepada penduduk setempat, di mana tarekat ini berkembang luas. Salah satu negara Afrika yang banyak memiliki pengikut Tarekat Sammaniyah adalah Sudan. Tarekat ini masuk ke Sudan atas jasa Syekh Ahmad at-Tayyib bin Basir yang sebelumnya belajar di Makkah sekitar tahun 1800 M. Pemimpin Tarekat Sammaniyah di Sudan yang terkenal ialah Syekh Muhammad Ahmad bin Abdullah [tahun 1843-1885 M] yang pernah memproklamasikan dirinya sebagai Imam Mahdi [pemimpin yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh masyarakat]. Ia adalah seorang pemimpin dan anggota Tarekat Sammaniyah yang sangat saleh dan kehadirannya dinanti-nantikan oleh masyarakat Sudan. Syekh Muhammad Ahmad menghendaki adanya perbaikan-perbaikan terhadap praktek-praktek keagamaan sesuai dengan agama Islam yang benar. Ia memberikan berbagai perintah tentang bermacam-macam aspek keagamaan, seperti pengasingan [pingitan] terhadap kaum wanita dan pembagian tanah kepada rakyat, dan berusaha mereformasi berbagai praktek keagamaan masyarakat Sudan yang waktu itu dilakukan sebagai tradisi. Ini semua bertujuan untuk menyesuaikan tradisi mereka dengan ajaran-ajaran syari'ah. Syekh Muhammad Ahmad juga menentang pemakaian jimat, penggunaan tembakau dan alkohol, ratapan wanita pada upacara pemakaman jenazah, penggunaan musik dalam prosesi keagamaan dan ziarah ke kuburan orang-orang suci [wali]. Dalam rangka mencontoh hijrah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, ia dan para pengikutnya mengasingkan diri di Pegunungan Kardofan, lalu menyebut diri mereka sebagai Anshar [penolong] Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Lebih jauh, kelompok ini berhasil membentuk pemerintahan revolusioner dengan organisasi militer yang sangat rapi dan mempunyai sumber keuangan yang teratur administrasi yang baik.

Amalan Sammaniyah

Ciri-ciri Tarekat Sammaniyah adalah berdzikir "Laa Ilaha Illallah" dengan suara keras oleh para pengikutnya. Dalam mewiridkan bacaan dzikir, murid Tarekat Sammaniyah bisa melakukan secara bersama-sama pada malam jumat di masjid-masjid atau mushallah-mushallah sampai tengah malam. Selain itu, ibadah yang diamalkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Sammani, adalah shalat sunnah Asyraq [setelah subuh] dua rakaat, shalat sunnah Dhuha sebanyak 12 [dua belas rakaat], memperbanyak riyadhah lahir dan batin untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala], dan menjauhkan diri dari kesenangan duniawi. Berikut adalah beberapa ajarannya yang terkenal:

1. Memperbanyak shalat dan dzikir.

2. Bersikap lemah lembut kepada fakir miskin.

3. Tidak mencintai dunia.

4. Menukarkan akal kemanusiaan [bashariyah] kepada akal ketuhanan [Rabbaniyah].

5. Bertauhidkan Allah subhanahu wata'ala, baik dzat, sifat maupun af'al-Nya.

Syekh Samman, sang pendiri Sammaniyah

Kemunculan Tarekat Sammaniyah, bermula dari kegiatan sang tokoh pendirinya, yaitu Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Sammani al-Hasani al-Madani al-Qadidri al-Quraisyi. Ia adalah seorang faqih, ahli Hadits dan sejarawan pada masa itu. Dilahirkan di kota Madinah [1132 H/ 1718 M]. Keluarganya berasal dari suku Quraisy. Semula ia belajar Tarekat Khalwatiyah di Damaskus, Syria. Lama-kelamaan, ia mulai membuka pengajian teknik dzikir, wirid dan ajaran tasawuf lainnya. Ia menyusun cara pendekatan diri dengan Allah subhanahu wata'ala yang akhirnya di sebut sebagai Tarekat Sammaniyah. Sehingga ada yang mengatakan, bahwa Tarekat Sammaniyah adalah cabang dari Tarekat Khalwatiyah. Demi untuk memperolei pengetahuan, ia rela menghabiskan usianya dengan melakukan berbagai perjalanan. Beberapa negara yang ia singgahi untuk menuntut ilmu diantaranya adalah:
- Iran
- Syria [Suriyah]
- Hijaz
- Transoxiana [wilayah Asia Tengah sekarang].
Karyanya yang paling terkenal adalah kitab, "Al-Insab". Ia juga mengarang buku-buku lain seperti:
- Ma'jumul Mashayekh
- Tazyilul Tarikh Baghdad
- Tarikh Marv.

Syekh Muhammad Samman, dikenal sebagai tokoh tarekat yang memiliki banyak karamah. Baik kitab Manaqib, Syekh al-Waliy al-Syahir Muhammad Samman maupun Hikayat Syekh Muhammad Samman, keduanya mengungkapkan sosok Syekh Samman. Sebagaimana guru-guru besar tasawuf, Syekh Muhammad Samman, terkenal dengan keshalehan, kezuhudan dan kekeramatannya.
Konon, ia memiliki karamah yang sangat luar biasa. "Ketika kaki diikat sewaktu di penjara, aku melihat Syekh Muhammad Samman berdiri di depanku dan marah. Ketika kupandang wajahnya, tersungkurlah aku dan pingsan. Setelah siuman kulihat rantai yang melilitku telah terputus".
Kata Abdullah al-Basri, padahal seorang muridnya menyaksikan, Syekh Muhammad Samman berada dikediamannya sendiri.

Adapun perihal awal kegiatan Syekh Muhammad Samman dalam tarekat dan hakikat, menurut Kitab Manaqib, diperolehnya sejak bertemu dengan Syekh Abdul Qadir al-Jilany. Suatu ketika Syekh Muhammad Samman berkhalwat [menyendiri] di suatu tempat dengan memakai pakaian yang indah-indah. Pada waktu itu datang Syekh Abdul Qadir al-Jilany membawakan pakaian jubah putih. "Inilah pakaian yang cocok untukmu". Syekh Abdul Qadir Jilany kemudian memerintahkan Syekh Muhammad Samman, agar melepaskan pakaiannya dan mengenakan jubah putih yang dibawanya.
Konon, Syek Muhammad Samman menutup-nutupi ilmunya sehingga datanglah perintah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, untuk menyebarkannya kepada penduduk kota Madinah. Wallahu a'lam.

Hubungan Tari Saman Aceh dengan Tarekat Sammaniyah

Nanggroe Aceh Darussalam [NAD] adalah provinsi paling barat di bumi Nusantara. Daerah ini dikenal sebagai, " Serambi Makkah"-nya Nusantara. Agama Islam yang masuk ke Indonesia di percaya juga berawal dari wilayah ini. Tidak heran bila nuansa keislaman sangat kental di provinsi paling barat di Indonesia tersebut. Sebagaiman disebut, Tarekat Sammaniyah pertama kali masuk di Indonesia melalui Aceh dan dibawa oleh Syekh Abdul Samad al-Palimbani sekitar abad ke-18, salah seorang murid Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Sammani al-Hasani al-Madani, pendiri Tarekat Sammaniyah. Tarekat Sammaniyah mengajarkan dzikir dan wirid untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala dan kepada murid-muridnya. Wirid dan dzikir itu biasanya diamalkan seusai melaksanakan shalat lima waktu dan dengan cara duduk bersila. Seiring dengan perkembangannya, dzikir dan wirid Sammaniyah terus berkembang. Di Sudan dan Nigeria [Afrika Utara], dzikir dan wirid Sammaniyah dilakukan dengan cara berdiri sambil memuji kebesaran Allah subhanahu wata'ala. Tidak hanya wirid seusai shalat lima waktu, dzikir dan wirid Sammaniyah, biasanya dilaksanakan pada hari besar Islam, seperti Isra' Mi'raj, Maulid Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan lain-lain.

Adakah hubungan antara dzikir Sammaniyah dengan tari Saman di Aceh?

Tidak ada keterangan jelas, mengenai keberadaan masalah ini. Dalam beberapa literatur yang ditemukan, tarian Saman di Aceh didirikan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo di Aceh Tenggara.

Siapakah Syekh Saman Aceh ini?

Hingga kini, belum ada keterangan yang jelas mengenai riwayatnya. Hanya tercatat ia adalah seorang ulama yang menyebarkan Islam di Aceh. Pengamat sejarah Gayo, Ir. Wahab Daud menjelaskan, bahwa tari saman sangat identik dengan agama Islam, karena tarian ini dikembangkan sebagai alat untuk mengembangkan agama Islam, khususnya di dataran tinggi Gayo Lues. Liriknya bermakna nasehat, petuah agama, petunjuk hidup dan sebagainya. Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan. Tari Saman biasanya diawali salam pembuka oleh syekh [tokoh adat atau pimpinan dari tari Saman]. Selanjutnya, disampaikan petuah-petuah tentang menjalani kehidupan umat manusia. Tarian ini dilakukan oleh delapan orang, terkadan dilakukan tujuh belas orang. Orang yang duduk pada posisi nomor sembilan [tengah], bertindak sebagai pimpinan [syekh]. Pada mulanya tarian ini hanya merupakan permainan rakyat biasa yang disebut Pok Ane. Melihat minat besar masyarakat Aceh pada kesenian ini, Syekh Saman pun menyisipkan syair-syair yang mengandung puji-pujian kepada Allah subhanahu wata'ala. Sehingga tari Saman menjadi media dakwa saat itu. Dahulu, latihan tari Saman dilakukan di bawah kolong Meunasah [sejenis surau yang berbentuk panggung]. Sehingga mereka tidak ketinggalan dalam shalat berjama'ah. Sejalan dengan kondisi Acei yang berada dalam peperangan, Syekh Saman pun menambahkan syair-syair yang menambah semangat juang rakyat Aceh. Tari ini terus berkembang sesuai dengan kebutuhannya. Sampai sekarang tari ini lebih sering ditampilkan dalam perayaan-perayaan keagamaan dan kenegaraan. Tidak ditemukan penjelasan lain dari Ir. Wahab Daud, mengenai asal mula tari Saman. Walaupun demikian berdasarkan mudha Farsyah, seorang peneliti dari Balai Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh. Ia hanya menyebutkan, tari Saman berasal dari Aceh Gayo hasil karya [diciptakan] Syekh Saman, seorang ulama penyebar agama Islam di Aceh, khususnya Gayo. Belum ditemukan biografi Syekh Saman, pencipta atau pendiri tari Saman ini. Tentu semakin menarik dan semakin jelas bila ada riwayat hidup Syekh Saman, dan asal mula diciptakannya tari Saman ini.

Benarkah tarian Saman memiliki hubungan dengan Tarekat Sammaniyah yang didirikan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Sammani al-Hasani al-Madani?
Apakah tari Saman memang merupakan budaya asli Aceh yang dikembangkan dari dzikir dan wirid?
Wallahu a'lam

Penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah [1]





Naqsyabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebarannya, dan terdapat banyak di wilayah Asia Muslim [meskipun sedikit di antara orang-orang Arab] serta Turki, Bosnia Herzegovina, dan wilayah Volga Ural. Bermula di Bukhara pada akhir abad ke-14, Naqsyabandiyah mulai menyebar ke daerah-daerah tetangga dunia Muslim dalam waktu seratus tahun. Perluasannya mendapat dorongan baru dengan munculnya cabang Mujaddidiyah, dinamai menurut nama Syekh Ahmad Sirhindi Mujaddidi Alfi Tsani [Pembaru Milenium kedua, wafat 1624 M]. Pada akhir abad ke-18, nama ini hampir sama dengan tarekat tersebut di seluruh Asia Selatan, wilayah Utsmaniyah, dan sebagian besar Asia Tengah.

Ciri-ciri yang menonjol dari Tarekat Naqsyabandiyah adalah:

- Diikutinya syari'ah secara ketat.

- Keseriusan dalam beribadah.

- Menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari.

- Lebih mengutamakan berdzikir dalam hati.

- Kecenderungannya semakin kuat ke arah keterlibatan dalam politik [meskipun tidak konsisten].

Sejarah kebanyakan orang Naqsyabandiyah Mujaddidiyah dalam dua abad ini menelusuri keturunan awal mereka melalui Ghulam Ali [Syekh Abdullah Dihlavi, wafat 1824 M], karena pada awal abad ke-19, India adalah pusat organisasi dan intelektual utama dari tarekat ini. Khanaqah [pondok] milik Ghulam Ali di Delhi menarik pengikut tidak hanya dari seluruh India, tetapi juga dari Timur Tengah dan Asia Tengah. Hingga kini Khanaqah masih tetap ada [pernah mengalami masa tidak aktif akibat perampasan Delhi oleh orang Inggris pada tahun 1857 M]. Namun fungsi Pan-Islam-nya sebagian besar diwarisi oleh pada wakil dan pengganti Ghulam Ali yang menetap di tempat-tempat lain di Dunia Muslim. Yang penting adalah para syekh yang tinggal di Makkah dan Madinah: kedua kota suci ini menyebarkan Tarekat Naqsyabandiyah di banyak tanah Muslim sampai terjadinya penaklukan Hijaz oleh kaum Wahabiyah pada tahun 1925, yang mengakibatkan dilarangnya seluruh aktivitas sufi.

Demikianlah, Muhammad Jan al-Makki [wafat tahun 1852], wakil Ghulam Ali di Makkah, menerima banyak peziarah Turki dan Basykir, yang kemudian mendirikan cabang-cabang baru Naqsyabandiyah di kampung halamannya. Pengganti Ghulam Ali yang pertama di Khanaqah Delhi, Abi Sa'id, melewatkan beberapa waktu di Hijaz untuk menerima pengikut baru. Anak dan pengganti Abu Sa'id, Syekh Ahmad Sa'id, memilih tinggal di Madinah setelah suatu peristiwa besar pada tahun 1857, memindahkan arah Naqsyabandiyah India ke Hijaz untuk sementara. Ketiga putra Ahmad Sa'id sama-sama memperoleh warisannya: dua orang pergi ke Makkah dan menarik pengikut dari India serta Turki di sana. Sementara yang ketiga, Muhammad Mazhhar, tetap di Madinah dan mengelola pengikut yang terdiri dari ulama dan pengikut dari India, Turki, Daghestan, Kazan, dan Asia Tengah. Namun, yang paling penting dari pengikut Muhammad Mazhhar adalah seorang Arab, Muhammad Salih al-Zawawi dan murid-muridnya yang tidak merasakan kebenciaan, yang umumnya ditujukan kepada ulama pribumi terhadap orang non Arab dalam masyarakat mereka. Sebagai guru fiqh Syafi'i, dia memiliki akses khusus terhadap orang-orang Indonesia dan orang-orang Melayu yang berkumpul di Hijaz, serta berkat al-Zawawi dan murid-murid Naqsyabandiyah dikenal secara serius di Asia Tenggara.

Di Pontianak di pantai barat Kalimantan, masih terdapat berbagai jejak garis Naqsyabandiyah yang terpancar dari Hijaz ini. Dorongan yang membawa Naqsyabandiyah ke zaman modern berasal dari pengganti Ghulam Ali yang lainnya. Maulana Khalid al-Baghdadi [wafat tahun 1827]. Beliau mempunyai peranan yang penting di dalam perkembangan tarekat ini sehingga keturunan dari para pengikutnya dikenal sebagai kaum Khalidiyah, dan dia kadang-kadang di pandang sebagai "Pemburu" [Mujaddid] Islam pada abad ke-13, sebagaimana Srihindi di pandang sebagai pemburu Milenium kedua. Khalidiyah tidak terlalu berbeda dengan para leluhurnya Mujaddidiyah. Yang baru adalah usaha Maulana Khalid untuk menciptakan tarekat yang terpusat dan disiplin, terfokus pada dirinya pribadi, dengan cara ibadah yang disebut Rabithah [petautan] atau konsentrasi pada citra Maulana Khalid sebelum berdzikir. Usaha ini selanjutnya terkait dengan sikap politik, aktivitas, yang bertujuan untuk mengamankan supremasi syari'at dalam masyarakat Muslim dan menolak agresi Eropa.

Setelah kematian Maulana Khalid, tidak ada kepemimpinan yang terpusat, tetapi sikap politik yang mendasari upaya tersebut tetap hidup. Lahir di Distrik Syahrazur di Kurdistan Selatan pada tahun 1776 M, Maulana Khalid melewatkan waktu sekitar satu tahun bersama Ghulam Ali di Delhi sebelum kembali ke kampung halamannya pada tahun 1881 M, dengan ''wewenang lengkap dan mutlak'' sebagai wakilnya. Sebelum meninggalkan Delhi, Maulana Khalid memberi tahu gurunya bahwa tujuan utamanya adalah untuk ''mencari dunia ini demi agama'', dari tiga tempat tinggalnya setelah itu, Sulaimaniyah, Baghdad dan Damaskus, beliau mendirikan jaringan 116 wakil, yang masing-masing dengan tanggung jawab yang jelas terbatas geografisnya. Murid-muridnya mencakup tidak hanya anggota-anggota hierarki agama pemerintahan ''Utsmaniyah'', tetapi juga sejumlah gubernur provinsi dan tokoh militer yang sangat penting dalam memajukan wibawa Khalidiyah adalah wakil kedua Maulana Khalid di Istambul, Abdul al-Wahhab al-Susi, yang merekrut Makkizada Musthafa Asim, al-Islam masa itu ke dalam, tarekat ini. Usaha untuk meraih pengaruh atas kebijakan Utsmaniyah yang disiratkan oleh berbagai upaya ini tidak pernah benar-benar berhasil. Namun, terjadi semacam penyejajaran antara Khalidiyah dengan Utsmaniyah pada masa pemerintahan Abdul Hamid II, yang berteman dengan Khalidiyah terkemuka di Istambul, Ahmed Ziyauddin Gumushanevi [wafat tahun 1893 M]. Kepentingan Gumushanevi jauh mentransendenkan yang politis: tulisannya yang dimiliki banyak mengenai sufisme pada umumnya dan Naqsyabandiyah pada khususnya, mewakili puncak sastra sufi Utsmaniyah besar yang terakhir. Sebaliknya, Abdul Hamid sangat ditentang oleh Syekh Naqsyabandiyah yang menonjol lainnya, Muhammad As'ad dari Ibril wilayah Irak Utara.

Pengaruh Maulana Khalid mungkin paling nampak, di kampung halamannya Kurdistan. Cabang Naqsyabandiyah yang ia perkenalkan di sana memudarkan pengaruh "Qadiriyah" yang sebelumnya merupakan tarekat paling menonjol di wilayah Kurdistan. Dan memunculkan sejumlah keluarga sebagai pemimpin turunan tarekat itu, serta memegang kepemimpinan dalam urusan negara Kurdistan. Hubungan Naqsabandiyah dengan separatisme Kurdistan, dan kemudian nasionalisme, pertama terlihat pada pemberontakan Kurdistan pada tahun 1880 Masehi yang di pimpin oleh Ubaidillah dari Syamdinan, yang berhasil membebaskan diri untuk sementara. Sebagian besar orang Kurdistan Iran, dari kendali Iran. Keluarga Barzani juga mampu mendominasi ungkapan nasionalisme Irak selama beberapa puluh tahun melalui wibawa Naqsyabandiyah yang diwarisinya. Khalidiyah juga mengakar dengan cepat dan tepat di Daghestan wilayah pegunungan yang terletak di Kaukasus dan Rusia Selatan. Wilayah ini pertama kali diperkenalkan Naqsyabandiyah pada akhir abad ke-18, tetapi kedatangan Khalidiyah yang membuat wilayah itu menjadi daerah Naqsyabandiyah, semasa Maulana Khalid. Penekanan ganda Khalidiyah di Daghestan adalah pengganti hukum-kebiasaan [cotumary law] non Islam menjadi syari'ah dan perlawanan terhadap pemerintah Rusia. Pemimpin Naqsyabandiyah pertama adalah Ghazi Muhammad, yang meninggal dibunuh oleh orang Rusia pada tahun 1832 M, dan penggantinya dua tahun kemudian mengalami nasib yang sama. Sebaliknya Syamil, yang kemudian mengambil kepemimpinan gerakan itu, mampu menahan Rusia hingga tahun 1859 M, salah satu perlawanan Muslim terhadap imperialisme Eropa yang pertama dan terkenal.

Pengaruh Naqsyabandiyah di Daghestan ternyata sulit dicabut, kaum Naqsyabandiyah aktif dalam pemberontakan tahun 1877 di Daghestan dan Chechnia yang berjaya dalam rentang waktu antara runtuhnya Tsar Rusia dan pembentukan pemerintahan Uni Soviet. Wilayah populasi muslim lain yang di perintah oleh Rusia yang ternyata menerima Khalidiyah, ialah Volga Ural [sekarang Tatarstan dan Baskira]. Wakil Maulana Khalid di Makkah, Abdullah Makki [Erzincani], menerima seorang murid dari Kazan, Fatsullah Menavusi; namun pengaruhnya yang terbukti menentukan adalah pengikut Gumushaveni asal Basykar, Syekh Zainullah Rasulev dari Troisk. Semula Rasulev adalah pengikut garis Mujaddidiyah yang pergi ke Bukhara, kemudian mengalihkan kesetiaannya kepada Gumushaveni, setelah berkunjung ke Istambul pada tahun 1870. Ketika kembali dia memprogandakan Khalidiyah, sehingga membangkitkan permusuhan dari para pesaingnya dan menimbulkan kecurigaan dari pihak berwenang Rusia; hal ini mengakibatkan Rasulev dipenjara dan diasingkan. Kemudian dibebaskan pada tahun 1881 M, dia memperkokoh dan memperkuat pengikutnya sehingga ratusan murid dibawah pengaruhnya; mereka tidak hanya tersebar di Volga Ural, tetapi juga di Kazakhstan dan Siberia. Tatkala kematian tiba pada tahun 1917, disebut sebagai "raja spiritual rakyatnya", dan setelah kematiannya wibawa Rasulev tetap bergaung sampai priode Soviet: tiga kepala Direktoral Spiritual untuk kaum Muslim Rusia, Eropa dan Siberia yang berfungsi dibawah pengawasan Soviet, adalah murid-murid Rusalev. Akhirnya Khalidiyah memastikan pula penanaman pengaruh Naqsyabandiyah secara permanen di dunia Melayu Indonesia.

Abdullah Makki mempunyai murid dari Sumatera yaitu Ismail Minangkabawi. Setelah lama tinggal di Makkah, Ismail Minangkabawi kembali ke Indonesia dan menetap di Penyengat wilayah kepulaun Riau. Di sana ia memperoleh kesetiaan dari keluarga pemerintahan, yang sudah mulai diperkenalkan pada Naqsyabandiyah oleh Duta-duta pemerintah yang dikirim dari Madinah oleh Muhammda Mazhhar. Ia juga pergi ke Melayu hingga Kedah, memprogandakan Khalidiyah kemanapun ia pergi, namun usahanya merupakan, digantikan dua Khalidiyah yang tinggal di Makkah, yaitu Khalil Hamdi Pasya dan Syekh Sulaiman Zuhdi. Kenyataan bahwa kedua orang ini adalah pesaing, saling menuduh bahwa yang lainnya adalah menyimpang dari prinsip Naqsyabandiyah, menyiratkan betapa dunia Melayu Indonesia menjadi sumber pengikut yang kaya untuk Naqsyabandiyah. Dalam jangka panjang, Sulaiman Zuhdi lebih berhasil daripada pesaingnya, hingga Jabal Abi Qubais di Makkah, tempat dia tinggal di pandang sebagai sumber seluruh Tarekat Naqsyabandiyah di Asia Tenggara. Di antara murid ini banyak yang mendirikan Khalidiyah diberbagai tempat di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Yang paling penting adalah Abdil Wahab Rokan [wafat tahun 1926]. Beliau di kirim dari Makkah pada tahun 1868 dengan misi menyebarkan Khalidiyah diseluruh Sumatera, dari Aceh sampai Palembang, misi yang dilaksanakan dengan sukses besar adalah dari Pesantrennya di Bab Al-Salam, Langkat, beliau tinggal menetap selama tiga tahun di Johor dan memungkinkan dia untuk memperluas pengaruhnya lebih jauh hingga semenanjung Malaya. Praktek Naqsyabandiyah di Dunia Melayu Indonesia, sejak dini sangat berbeda dengan adanya ritual yang disebut dengan suluk, yakni menyendiri dalam waktu yang berbeda-beda dan sebagian diiringi dengan puasa. Asal-usul praktek ini sangat berbeda dengan tradisi Naqsyabandiyah yang tidak diketahui. Putusnya hubungan dengan Makkah akibat penaklukan Hijaz oleh kaum Wahabiyah makin menambah ciri khas bagi kaum Naqsyabandiyah di Melayu Indonesia.

Penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah [1]





Naqsyabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebarannya, dan terdapat banyak di wilayah Asia Muslim [meskipun sedikit di antara orang-orang Arab] serta Turki, Bosnia Herzegovina, dan wilayah Volga Ural. Bermula di Bukhara pada akhir abad ke-14, Naqsyabandiyah mulai menyebar ke daerah-daerah tetangga dunia Muslim dalam waktu seratus tahun. Perluasannya mendapat dorongan baru dengan munculnya cabang Mujaddidiyah, dinamai menurut nama Syekh Ahmad Sirhindi Mujaddidi Alfi Tsani [Pembaru Milenium kedua, wafat 1624 M]. Pada akhir abad ke-18, nama ini hampir sama dengan tarekat tersebut di seluruh Asia Selatan, wilayah Utsmaniyah, dan sebagian besar Asia Tengah.

Ciri-ciri yang menonjol dari Tarekat Naqsyabandiyah adalah:

- Diikutinya syari'ah secara ketat.

- Keseriusan dalam beribadah.

- Menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari.

- Lebih mengutamakan berdzikir dalam hati.

- Kecenderungannya semakin kuat ke arah keterlibatan dalam politik [meskipun tidak konsisten].

Sejarah kebanyakan orang Naqsyabandiyah Mujaddidiyah dalam dua abad ini menelusuri keturunan awal mereka melalui Ghulam Ali [Syekh Abdullah Dihlavi, wafat 1824 M], karena pada awal abad ke-19, India adalah pusat organisasi dan intelektual utama dari tarekat ini. Khanaqah [pondok] milik Ghulam Ali di Delhi menarik pengikut tidak hanya dari seluruh India, tetapi juga dari Timur Tengah dan Asia Tengah. Hingga kini Khanaqah masih tetap ada [pernah mengalami masa tidak aktif akibat perampasan Delhi oleh orang Inggris pada tahun 1857 M]. Namun fungsi Pan-Islam-nya sebagian besar diwarisi oleh pada wakil dan pengganti Ghulam Ali yang menetap di tempat-tempat lain di Dunia Muslim. Yang penting adalah para syekh yang tinggal di Makkah dan Madinah: kedua kota suci ini menyebarkan Tarekat Naqsyabandiyah di banyak tanah Muslim sampai terjadinya penaklukan Hijaz oleh kaum Wahabiyah pada tahun 1925, yang mengakibatkan dilarangnya seluruh aktivitas sufi.

Demikianlah, Muhammad Jan al-Makki [wafat tahun 1852], wakil Ghulam Ali di Makkah, menerima banyak peziarah Turki dan Basykir, yang kemudian mendirikan cabang-cabang baru Naqsyabandiyah di kampung halamannya. Pengganti Ghulam Ali yang pertama di Khanaqah Delhi, Abi Sa'id, melewatkan beberapa waktu di Hijaz untuk menerima pengikut baru. Anak dan pengganti Abu Sa'id, Syekh Ahmad Sa'id, memilih tinggal di Madinah setelah suatu peristiwa besar pada tahun 1857, memindahkan arah Naqsyabandiyah India ke Hijaz untuk sementara. Ketiga putra Ahmad Sa'id sama-sama memperoleh warisannya: dua orang pergi ke Makkah dan menarik pengikut dari India serta Turki di sana. Sementara yang ketiga, Muhammad Mazhhar, tetap di Madinah dan mengelola pengikut yang terdiri dari ulama dan pengikut dari India, Turki, Daghestan, Kazan, dan Asia Tengah. Namun, yang paling penting dari pengikut Muhammad Mazhhar adalah seorang Arab, Muhammad Salih al-Zawawi dan murid-muridnya yang tidak merasakan kebenciaan, yang umumnya ditujukan kepada ulama pribumi terhadap orang non Arab dalam masyarakat mereka. Sebagai guru fiqh Syafi'i, dia memiliki akses khusus terhadap orang-orang Indonesia dan orang-orang Melayu yang berkumpul di Hijaz, serta berkat al-Zawawi dan murid-murid Naqsyabandiyah dikenal secara serius di Asia Tenggara.

Di Pontianak di pantai barat Kalimantan, masih terdapat berbagai jejak garis Naqsyabandiyah yang terpancar dari Hijaz ini. Dorongan yang membawa Naqsyabandiyah ke zaman modern berasal dari pengganti Ghulam Ali yang lainnya. Maulana Khalid al-Baghdadi [wafat tahun 1827]. Beliau mempunyai peranan yang penting di dalam perkembangan tarekat ini sehingga keturunan dari para pengikutnya dikenal sebagai kaum Khalidiyah, dan dia kadang-kadang di pandang sebagai "Pemburu" [Mujaddid] Islam pada abad ke-13, sebagaimana Srihindi di pandang sebagai pemburu Milenium kedua. Khalidiyah tidak terlalu berbeda dengan para leluhurnya Mujaddidiyah. Yang baru adalah usaha Maulana Khalid untuk menciptakan tarekat yang terpusat dan disiplin, terfokus pada dirinya pribadi, dengan cara ibadah yang disebut Rabithah [petautan] atau konsentrasi pada citra Maulana Khalid sebelum berdzikir. Usaha ini selanjutnya terkait dengan sikap politik, aktivitas, yang bertujuan untuk mengamankan supremasi syari'at dalam masyarakat Muslim dan menolak agresi Eropa.

Setelah kematian Maulana Khalid, tidak ada kepemimpinan yang terpusat, tetapi sikap politik yang mendasari upaya tersebut tetap hidup. Lahir di Distrik Syahrazur di Kurdistan Selatan pada tahun 1776 M, Maulana Khalid melewatkan waktu sekitar satu tahun bersama Ghulam Ali di Delhi sebelum kembali ke kampung halamannya pada tahun 1881 M, dengan ''wewenang lengkap dan mutlak'' sebagai wakilnya. Sebelum meninggalkan Delhi, Maulana Khalid memberi tahu gurunya bahwa tujuan utamanya adalah untuk ''mencari dunia ini demi agama'', dari tiga tempat tinggalnya setelah itu, Sulaimaniyah, Baghdad dan Damaskus, beliau mendirikan jaringan 116 wakil, yang masing-masing dengan tanggung jawab yang jelas terbatas geografisnya. Murid-muridnya mencakup tidak hanya anggota-anggota hierarki agama pemerintahan ''Utsmaniyah'', tetapi juga sejumlah gubernur provinsi dan tokoh militer yang sangat penting dalam memajukan wibawa Khalidiyah adalah wakil kedua Maulana Khalid di Istambul, Abdul al-Wahhab al-Susi, yang merekrut Makkizada Musthafa Asim, al-Islam masa itu ke dalam, tarekat ini. Usaha untuk meraih pengaruh atas kebijakan Utsmaniyah yang disiratkan oleh berbagai upaya ini tidak pernah benar-benar berhasil. Namun, terjadi semacam penyejajaran antara Khalidiyah dengan Utsmaniyah pada masa pemerintahan Abdul Hamid II, yang berteman dengan Khalidiyah terkemuka di Istambul, Ahmed Ziyauddin Gumushanevi [wafat tahun 1893 M]. Kepentingan Gumushanevi jauh mentransendenkan yang politis: tulisannya yang dimiliki banyak mengenai sufisme pada umumnya dan Naqsyabandiyah pada khususnya, mewakili puncak sastra sufi Utsmaniyah besar yang terakhir. Sebaliknya, Abdul Hamid sangat ditentang oleh Syekh Naqsyabandiyah yang menonjol lainnya, Muhammad As'ad dari Ibril wilayah Irak Utara.

Pengaruh Maulana Khalid mungkin paling nampak, di kampung halamannya Kurdistan. Cabang Naqsyabandiyah yang ia perkenalkan di sana memudarkan pengaruh "Qadiriyah" yang sebelumnya merupakan tarekat paling menonjol di wilayah Kurdistan. Dan memunculkan sejumlah keluarga sebagai pemimpin turunan tarekat itu, serta memegang kepemimpinan dalam urusan negara Kurdistan. Hubungan Naqsabandiyah dengan separatisme Kurdistan, dan kemudian nasionalisme, pertama terlihat pada pemberontakan Kurdistan pada tahun 1880 Masehi yang di pimpin oleh Ubaidillah dari Syamdinan, yang berhasil membebaskan diri untuk sementara. Sebagian besar orang Kurdistan Iran, dari kendali Iran. Keluarga Barzani juga mampu mendominasi ungkapan nasionalisme Irak selama beberapa puluh tahun melalui wibawa Naqsyabandiyah yang diwarisinya. Khalidiyah juga mengakar dengan cepat dan tepat di Daghestan wilayah pegunungan yang terletak di Kaukasus dan Rusia Selatan. Wilayah ini pertama kali diperkenalkan Naqsyabandiyah pada akhir abad ke-18, tetapi kedatangan Khalidiyah yang membuat wilayah itu menjadi daerah Naqsyabandiyah, semasa Maulana Khalid. Penekanan ganda Khalidiyah di Daghestan adalah pengganti hukum-kebiasaan [cotumary law] non Islam menjadi syari'ah dan perlawanan terhadap pemerintah Rusia. Pemimpin Naqsyabandiyah pertama adalah Ghazi Muhammad, yang meninggal dibunuh oleh orang Rusia pada tahun 1832 M, dan penggantinya dua tahun kemudian mengalami nasib yang sama. Sebaliknya Syamil, yang kemudian mengambil kepemimpinan gerakan itu, mampu menahan Rusia hingga tahun 1859 M, salah satu perlawanan Muslim terhadap imperialisme Eropa yang pertama dan terkenal.

Pengaruh Naqsyabandiyah di Daghestan ternyata sulit dicabut, kaum Naqsyabandiyah aktif dalam pemberontakan tahun 1877 di Daghestan dan Chechnia yang berjaya dalam rentang waktu antara runtuhnya Tsar Rusia dan pembentukan pemerintahan Uni Soviet. Wilayah populasi muslim lain yang di perintah oleh Rusia yang ternyata menerima Khalidiyah, ialah Volga Ural [sekarang Tatarstan dan Baskira]. Wakil Maulana Khalid di Makkah, Abdullah Makki [Erzincani], menerima seorang murid dari Kazan, Fatsullah Menavusi; namun pengaruhnya yang terbukti menentukan adalah pengikut Gumushaveni asal Basykar, Syekh Zainullah Rasulev dari Troisk. Semula Rasulev adalah pengikut garis Mujaddidiyah yang pergi ke Bukhara, kemudian mengalihkan kesetiaannya kepada Gumushaveni, setelah berkunjung ke Istambul pada tahun 1870. Ketika kembali dia memprogandakan Khalidiyah, sehingga membangkitkan permusuhan dari para pesaingnya dan menimbulkan kecurigaan dari pihak berwenang Rusia; hal ini mengakibatkan Rasulev dipenjara dan diasingkan. Kemudian dibebaskan pada tahun 1881 M, dia memperkokoh dan memperkuat pengikutnya sehingga ratusan murid dibawah pengaruhnya; mereka tidak hanya tersebar di Volga Ural, tetapi juga di Kazakhstan dan Siberia. Tatkala kematian tiba pada tahun 1917, disebut sebagai "raja spiritual rakyatnya", dan setelah kematiannya wibawa Rasulev tetap bergaung sampai priode Soviet: tiga kepala Direktoral Spiritual untuk kaum Muslim Rusia, Eropa dan Siberia yang berfungsi dibawah pengawasan Soviet, adalah murid-murid Rusalev. Akhirnya Khalidiyah memastikan pula penanaman pengaruh Naqsyabandiyah secara permanen di dunia Melayu Indonesia.

Abdullah Makki mempunyai murid dari Sumatera yaitu Ismail Minangkabawi. Setelah lama tinggal di Makkah, Ismail Minangkabawi kembali ke Indonesia dan menetap di Penyengat wilayah kepulaun Riau. Di sana ia memperoleh kesetiaan dari keluarga pemerintahan, yang sudah mulai diperkenalkan pada Naqsyabandiyah oleh Duta-duta pemerintah yang dikirim dari Madinah oleh Muhammda Mazhhar. Ia juga pergi ke Melayu hingga Kedah, memprogandakan Khalidiyah kemanapun ia pergi, namun usahanya merupakan, digantikan dua Khalidiyah yang tinggal di Makkah, yaitu Khalil Hamdi Pasya dan Syekh Sulaiman Zuhdi. Kenyataan bahwa kedua orang ini adalah pesaing, saling menuduh bahwa yang lainnya adalah menyimpang dari prinsip Naqsyabandiyah, menyiratkan betapa dunia Melayu Indonesia menjadi sumber pengikut yang kaya untuk Naqsyabandiyah. Dalam jangka panjang, Sulaiman Zuhdi lebih berhasil daripada pesaingnya, hingga Jabal Abi Qubais di Makkah, tempat dia tinggal di pandang sebagai sumber seluruh Tarekat Naqsyabandiyah di Asia Tenggara. Di antara murid ini banyak yang mendirikan Khalidiyah diberbagai tempat di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Yang paling penting adalah Abdil Wahab Rokan [wafat tahun 1926]. Beliau di kirim dari Makkah pada tahun 1868 dengan misi menyebarkan Khalidiyah diseluruh Sumatera, dari Aceh sampai Palembang, misi yang dilaksanakan dengan sukses besar adalah dari Pesantrennya di Bab Al-Salam, Langkat, beliau tinggal menetap selama tiga tahun di Johor dan memungkinkan dia untuk memperluas pengaruhnya lebih jauh hingga semenanjung Malaya. Praktek Naqsyabandiyah di Dunia Melayu Indonesia, sejak dini sangat berbeda dengan adanya ritual yang disebut dengan suluk, yakni menyendiri dalam waktu yang berbeda-beda dan sebagian diiringi dengan puasa. Asal-usul praktek ini sangat berbeda dengan tradisi Naqsyabandiyah yang tidak diketahui. Putusnya hubungan dengan Makkah akibat penaklukan Hijaz oleh kaum Wahabiyah makin menambah ciri khas bagi kaum Naqsyabandiyah di Melayu Indonesia.

Penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah [2-Habis]




Peran Politik

Tidak semua perkembangan formatik yang berkenaan dengan Naqsyabandiyah berkaitan dengan Ghulam Ali Dihlavi dan keturunannya. Salah satu keturunan dari Ahmad Sirhindi, dirikan Syur Bazar di pinggiran Kabul pada pertengahan abad ke-19, dan para anggota cabang ini memainkan peranan penting dalam urusan negara Afganistan hingga pembentukan negara pasca komunis pertama pada tahun 1991. Di tempat lain di Asia Tengah, Naqsyabandiayah dari berbagai keturunan menonjol dalam perlawanannya terhadap Rusia dan sesudahnya. Dengan demikian pertahanan Goktepe oleh para Turkmen Akhel-Tekke diarahkan oleh seorang pengikut Naqsyabandiyah, yaitu Muhammad Ali Ikhsan [Dukchi Ikhsan]. Naqsyabandiyah juga memimpin pemberontakan melawan Cina di Xin Jing pada tahun 1863 dan di Shanxi serta Guansu antara tahun 1862 dan 1873. Ciri khas yang ditunjukkan oleh kelompok Naqsyabandiyah ini sering digambarkan dalam negara modern, terutama di Turki. Namun di Turki perlawanan Naqsyabandiyah terhadap sekulerisme selalu bersifat pasif [kecuali pemberontakan Sa'id]. Penggambaran peristiwa Menemen tahun 1931 sebagai konspirasi Naqsyabandiyah yang menyebabkan Syekh Muhammad As'ad [Mehmed Esad] dihukum mati secara adil, sekarang diragukan. Sejumlah pemimpin Naqsyabandiyah menjadi orang penting sebagai guru spiritual dan dan intelektual: Mahmud Sami Ramazanoglu [wafat tahun 1984], pengganti Syekh Muhammad As'ad. Mehmed Zahid Koktu [wafat tahun 1980], keturunan spiritual dari Gumushanevi bersama penggantinya Esad Gosan dan Resit Erol [wafat tahun 1994]. Kegiatan mengajar para syekh ini beserta para sekh lainnya secara alamiah memiliki pengaruh politik, namun cenderung mengarah pada pengintegrasian Naqsyabandiyah dalam struktur Republik Turki, dan bukan penolakan teqhadap struktur tersebut. Penting dicatat bahwa beberapa pemimpin Naqsyabandiyah hadir secara menonjol dipemakaman Presiden Turki, Turgut Ozal pada tahun 1993. Kaum Naqsyabandiyah dalam jumlah dan kekuatan intelektualnya, tidak dapat digambarkan secara seragam dalam Dunia Islam sekarang ini. Pengaruh mereka mungkin paling kuat di Turki dan wilayah Kurdistan, dan yang paling lemah adalah di Pakistan. Pada masa pemerintahan Soviet, pengaruh Naqsyabandiyah sangat terasa pada gerakan "Islam bawah tanah'' di Kaukasus Asia Tengah. Namun, pada akhirnya pemerintahan Soviet tidak diikuti perkembangan Naqsyabandiyah dipermukaan.

Berbagai Ritual dan Teknik Spiritual Naqsyabandiyah

Seperti tarekat-tarekat yang lain, Tarekat Naqsyabandiyah itu pun mempunyai sejumlah tata-cara peribadatan, teknik spiritual dan ritual tersendiri. Memang dapat juga dikatakan bahwa Tarekat Naqsyabandiyah terdiri atas ibadah, teknik dan ritual, sebab demikianlah makna asal dari istilah thariqah, ''jalan'' atau ''marga". Hanya saja kemudian istilah itu pun mengacu kepada perkumpulan orang-orang yang mengamalkan ''jalan" tadi. Naqsyabandiyah, sebagai tarekat terorganisasi, punya sejarah dalam rentangan masa hampir enam abad, dan penyebaran yang secara geografis meliputi tiga benua. Maka tidaklah mengherankan apabila warna dan tata cara Naqsyabandiyah menunjukkan aneka variasi mengikuti masa dan tempat tumbuhnya. Adaptasi terjadi karena keadaan memang berubah, dan guru-guru yang berbeda telah memberikan penekanan pada aspek yang berbeda dari asas yang sama, serta para pembaru menghapuskan pola pikir tertentu atau amalan-amalan tertentu dan memperkenalkan sesuatu yang lain. Dalam membaca pembahasan mengenai berbagai pikiran dasar dan ritual berikut, hendaknya selalu diingat bahwa dalam pengamalannya sehari-hari variasinya tidak sedikit.

Asas-asas Penganut Naqsyabandiyah mengenal sebelas asas Thariqah. Delapan dari asas itu dirumuskan oleh, Abdul Khaliq Ghuzdawani, sedangkan sisanya adalah penambahan oleh Baha' al-Din Naqsyabandi. Asas-asas ini disebutkan satu persatu dalam banyak risalah, termasuk dalam dua kitab pegangan utama para penganut Khalidiyah, Jamial-'Ushul fi al-'Auliya. Kitab karya Ahmad Dhiya al-Din Gumusykhanawi itu dibawa pulang dari Makkah oleh tidak sedikit jamaah haji Indonesia pada akhir abad ke-19 dan abad ke-20. Kitab yang satu lagi, yaitu Tanwir al-Qulub oleh Muhammad Aminal-Kurdi, dicetak ulang di Singapura dan di Surabaya, dan masih dipakai secara luas. Uraian dalam karya ini sebagian besar mirip dengan uraian Taj al-Din Zakarya [''Kakek'' spiritual dari Yusuf al-Makassari] sebagaimana dikutip Trimingham. Masing-masing asas dikenal dengan namanya dalam bahasa Parsi [bahasa para Khwajagan dan kebanyakan penganut Naqsyabandiyah India]. Asas-asasnya Abdul al-Khaliq adalah:

1. Hush dar dam, ''Sadar sewaktu bernafas''. Suatu latihan konsenstrasi: sufi yang bersangkutan haruslah sadar setiap menarik nafas, menghembuskan nafas, dan ketika berhenti sebentar di antara keduanya. Perhatian pada nafas dalam keadaan sadar akan Allah, memberikan kekuatan spiritual dan membawa orang lebih dekat kepada Allah; lupa atau kurang perhatian berarti kematian spiritual dan membawa orang jauh dari Allah [al-Kurdi].

2. Nazar bar qadam: "menjaga langkah''. Sewaktu berjalan, sang murid haruslah menjaga langkah-langkahnya, sewaktu duduk memandang lurus ke depan, demikianlah agar supaya tujuan [rohani]-nya tidak dikacaukan oleh segala hal di sekelilingnya yang tidak relevan.

3. Safar dar watan: "melakukan perjalanan di tanah kelahirannya". Melakukan perjalanan bathin, yakni meninggalkan segala bentuk ketidak sempurnaannya sebagai manusia menuju kesadaran akan hakikatnya sebagai makhluk yang mulia. [Atau dengan penafsiran lain: suatu perjalanan fisik, melintasi sekian negeri, untuk mencari mursyid yang sejati, kepada siapa seseorang sepenuhnya pasrah dan dialah yang akan menjadi perantaranya dengan Allah ''Gumusykhanawi''].

4. Khalwat dar anjuman: "Sepi di tengah keramaian". Berbagai pengarang memberikan bermacam-macam penafsiran, beberapa dekat pada konsep ''innerweltiche Aksese'' dalam sosiologi agama Max Weber. Khalwat bermakna menyepi, seorang pertapa, anjuman dapat berarti perkumpulan tertentu. Beberapa orang mengartikan asas ini sebagai ''menyibukkan diri dengan terus menerus membaca dzikir tanpa memperhatikan hal-hal lainnya bahkan sewaktu berada di tengah keramaian orang''; yang lain mengartikan sebagai perintah untuk turut serta secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat, sementara pada waktu yang sama hatinya tetap terpaut kepada Allah saja dan selalu wara'. Keterlibatan banyak kaum Naqsyabandiyah secara aktif dalam politik dilegitimasikan [dan mungkin dirangsang] dengan mengacu kepada asas ini.

5. Yad kard: "ingat - menyebut''. Terus menerus mengulangi nama Allah, dzikir tauhid [berisi formula Laa Ilaha Illallah], atau formula dzikir lainnya yang diberikan oleh guru seseorang, dalam hati atau dengan lisan. Oleh sebab itu, bagi penganut Naqsyabandiyah, dzikir itu tidak dilakukan sebatas berjamaah ataupun sendirian sehabis shalat, tetapi harus terus menerus agar di dalam hati bersemayam kesadaran akan Allah yang permanen.

6. Baz gasyt: "kembali - memperbarui''. Demi mengendalikan hati supaya tidak condong kepada hal-hal yang menyimpang [melantur], sang murid harus membaca setelah dzikir tauhid atau ketika berhenti sebentar di antara dua nafas, formula Ilahi anta waridlaka mathlubi [Ya Tuhanku, Engkaulah tempatku memohon dan keridhaan-Mulah yang kuharapkan]. Sewaktu mengucapkan dzikir, arti dari kalimat ini haruslah senantiasa berada di hati seseorang, untuk mengarahkan perasaannya yang halus kepada Tuhan semata.

7. Nigah dasyt: "waspada". Yaitu menjaga pikiran dan perasaan terus menerus sewaktu melakukan dzikir tauhid, untuk mencegah agar pikiran dan perasaan tidak menyimpang dari kesadaran yang tetap akan Tuhan, dan untuk memelihara pikiran dan perilaku seseorang agar sesuai dengan makna kalimat tersebut. Al-Kurdi mengutip seorang guru [anonim]: "Kujaga hatiku selama sepuluh hari; kemudian hatiku menjagaku selama dua puluh tahun.''

8. Yad dasyt: " mengingat kembali". Penglihatan yang diberkahi; secara langsung menangkap Dzat Allah, yang berbeda dari sifat-sifat dan nama-namanya; mengalami bahwa segalanya berasal dari Allah Yang Maha Esa dan beraneka ragam ciptaan terus berlanjut ke tak berhingga. Penglihatan ini ternyata hanya mungkin dalam keadaan jadzbah: itulah derajat rohani tertinggi yang bisa dicapai.

Asas-asas Tambahan dari Baha al-Din Naqsyabandi:

1. Wuquf-i zamani: "memeriksa penggunaan waktu seseorang''. Mengamati secara teratur bagaimana seseorang menghabiskan waktunya. [Al-Kurdi menyarankan agar ini dikerjakan setiap dua atau tiga jam]. Jika seseorang secara terus menerus sadar dan tenggelam dalam dzikir, dan melakukan perbuatan terpuji, hendaklah berterima kasih kepada Allah, jika seseorang tidak ada perhatian atau lupa atau melakukan perbuatan berdosa, hendaklah ia meminta ampun kepada-Nya.

2. Wuquf-i 'adadi: "memeriksa hitungan dzikir seseorang''. Dengan hati-hati beberapa kali seseorang mengulangi kalimat dzikir [tanpa pikirannya mengembara kemana-mana]. Dzikir itu diucapkan dalam jumlah hitungan ganjil yang telah ditetapkan sebelumnya.

3. Wuquf-i qalbi: "menjaga hati tetap terkontrol''. Dengan membayangkan hati seseorang [yang didalamnya secara bathin dzikir ditempatkan] berada di hadirat Allah, maka hati itu tidak sadar akan yang lain kecuali Allah, dan dengan demikian perhatian seseorang secara sempurna selaras dengan dzikir dan maknanya.

Taj al-Din menganjurkan untuk membayangkan gambar hati dengan nama Allah terukir diatasnya.

Dzikir dan wirid tekhnik dasar Tarekat Naqsyabandiyah, seperti kebanyakan tarekat lainnya adalah dzikir yang berulang-ulang menyebut nama Tuhan atau menyatakan kalimat Laa Ilaha Illallah. Tujuan latihan itu ialah untuk mencapai kesadaran akan Tuhan yang langsung dan permanen. Pertama sekali Tarekat Naqsyabandiyah membedakan dirinya dengan aliran lain dalam hal dzikir yang lazimnya adalah dzikir diam [Khafi': "Tersembunyi" atau Qalbi "dalam hati"], sebagai lawan dari dzikir keras [dhahri] yang lebih disukai tarekat-tarekat lain. Kedua jumlah hitungan dzikir yang mesti diamalkan lebih banyak pada Tarekat Naqsyabandiyah dari pada kebanyakan lain. Dzikir dapat dilakukan baik secara berjamaah walaupun sendiri-sendiri. Banyak penganut Naqsyabandiyah sering melakukan dzikir secara sendiri-sendiri, tetapi mereka yang tinggal dekat dengan seorang syekh cenderung ikut serta secara teratur dalam pertemuan-pertemuan dimana dilakukan dzikir berjamaah. Di banyak tempat pertemuan semacam itu dilakukan dua kali seminggu, pada malam jumat dan malam selasa; di tempat lain dilaksanakan ditengah hari sekali seminggu atau dalam selang waktu yang lebih lama lagi. Dua dzikir dasar Naqsyabandiyah, biasanya keduanya diamalkan dalam pertemuan yang sama, adalah:
- Dzikir 'ism al-dzat, "mengingat yang hakiki".
- Dzikir Tauhid, "mengingat keesaan".
Yang duluan terdiri dari pengucapan asma Allah yang berulang-ulang dalam hati, ribuan kali [dihitung dengan tasbih] sambil memusatkan perhatian hanya kepada Tuhan semata. Dzikir tauhid [juga dzikir tahlil atau nafty wa itsbath] terdiri atas bacaan perlahan disertai dengan pengaturan nafas, kalimat Laa Ilaha Illallah] yang dibayangkan seperti menggambar jalan [garis] melalui tubuh. Bunyi "La" permulaan di gambar dari daerah pusar terus kehati sampai keubun-ubun. Bunyi "Ilaha" turun ke kanan dan berhenti pada ujung bahu kanan. Disitu, kata berikutnya "illa" dimulai turun melewati bidang dada sampai ke jantung, dan kearah jantung inilah kata Allah dihujamkan sekuat tenaga. Orang membayangkan jantung itu mendenyutkan nama Allah dan membara memusnahkan segala kotoran.

Variasi lain yang diamalkan oleh para penganut Naqsyabandiyah yang lebih tinggi tingkatannya adalah dzikir latha'if. Dengan dzikir ini orang memusatkan kesadarannya [dan membayangkan nama Allah itu bergetar dan memancarkan panas] berturut-turut pada tujuh titik halus pada tubuh. Titik-titik ini, lathifah [jamak latha'if], adalah qalb [hati], terletak selebar dua jari dibawah puting susu kiri; roh [jiwa], selebar dua jari diatas susu kanan; sirr [nurani terdalam], selebar dua jari diatas puting susu kanan; khafi [kedalaman tersembunyi], dua jari diatas susu kanan; akhfa [kedalaman paling tersembunyi], ditengah dada; nafs nathiqah [akal budi], di otak, belahan pertama. Lathifah ketujuh, kull jasad sebenarnya tidak merupakan titik, tetapi luasnya meliputi seluruh tubuh. Bila seseorang telah mencapai tingkat dzikir yang sesuai dengan lathifah tingkat terakhir ini, seluruh tubuh akan bergetar dalam nama Tuhan. Konsep Latha'if --dibedakan dari teknik dzikir yang didasarkan padanya-- bukanlah khas Naqsyabandiyah saja, tetapi terdapat pada berbagai sistem psikologi mistik. Jumlah latha'if dan nama-namanya bisa berbeda; kebanyakan titik-titik itu disusun berdasarkan kehalusannya dan kaitannya dengan pengembangan spiritual. Ternyata latha'if pun persis serupa dengan sistem cakra dalam teori yoga. Memang, titik itu letaknya berbeda pada tubuh, tapi peranan dalam psikologi dan teknik meditasi seluruhnya sama saja. Asal usul ketiga dzikir ini sulit untuk ditentukan; dua yang pertama seluruhnya sesuai dengan asas-asas yang diletakkan oleh Abdul Khaliq al-Ghujdawani, dan muntik sudah diamalkan pada zamannya, atau mungkin lebih awal. Pengenalan dzikir latha'if umumnya dalam kepustakaan Naqsyabandiyah dihubungkan dengan nama Ahmad Sirhindi. Kelihatannya sudah digunakan dalam Tarekat Kubrawiyah sebelumnya; jika ini benar, maka penganut Naqsyabandiyah Asia Tengah sebenarnya sudah mengenal teknik tersebut sebelum dilegitimasikan oleh Ahmad Sirhindi. Pembacaan tidaklah berhenti pada dzikir; pembacaan aurad [Indonesia: wirid], meskipun tidak wajib, sangatlah dianjurkan. Aurad [wirid] merupakan doa-doa pendek atau formula-formula untuk memuja Tuhan dan atau memuji Nabi Muhammad, dan membacanya dalam hitungan sekian kali pada jam-jam yang sudah ditentukan dipercaya akan memperoleh keajaiban, atau paling tidak secara psikologis akan mendatangkan mamfaat. Seorang murid dapat saja diberikan wirid khusus untuk dirinya sendiri oleh syekhnya, untuk diamalkan secara rahasia [diam-diam] dan tidak boleh diberitahukan kepada orang lain; atau seseorang dapat memakai kumpulan aurad yang sudah diterbitkan. Naqsyabandiyah tidak mempunyai aurad yang unik. Kumpulan-kumpulan yang dibuat kalangan lain bebas saja dipakai; dan kaum Naqsyabandiyah ditempat lain dan pada masa yang berbeda memakai aurad yang berbeda-beda. Penganut Naqsyabandiyah di Turki, umpamanya, sering memakai al-Aurad al-Fathiyyah, dihimpun oleh Ali Hamdani, seorang sufi yang tidak memiliki persamaan sama sekali dengan kaum Naqsyabandiyah.
Wallahu a'lam.

Tarekat Syattariyah dari Negeri Hindustan




Di Indonesia, terdapat banyak sekali aliran Tasawuf yang dikembangkan melalui tarekat. Pengurus Besar Nahdhatul Ulama [PBNU], melalui Jam'iyyah Ahlith-Thariqah Mu'tabarah An-Nahdhiyyah, mengakui bahwa ada 42 tarekat yang populer di Indonesia. Salah satunya adalah Tarekat Syattariyah. Tarekat Syattariyah pertama kali muncul di Hindustan [India] pada abad ke-15. Seperti tarekat lainnya, nama tarekat ini juga dinisbatkan pada tokoh yang menjadi pembawa atau pelopornya, yakni Syekh Abdullah asy-Syattar. Tarekat ini pernah menduduki posisi penting di dunia Islam, karena pengaruhnya yang besar dan mendapatkan sambutan luas dari masyarakat Muslim, termasuk di Indonesia. John L Esposito, dalam Ensiklopedia: Dunia Islam Modern, menyatakan, meski di banyak negara Muslim ajaran yang dibawa oleh, Abdullah asy-Syattar dikenal dengan nama Tarekat Syattariyah; di beberapa tempat, seperti Iran dan kawasan Transoxania [Asia Tengah], ia lebih di kenal dengan nama lain. Di kedua wilayah ini, ajaran Abdullah asy-Syattar lebih dikenal dengan nama ''Isqiyah'' karena Abu Yazid al-Isqi dianggap sebagai tokoh utamanya. Sedangkan, di wilayah Turki Utsmaniyah [Kerajaan Ottoman], tarekat ini disebut ''Bistamiyah''. Dalam perkembangannya, Tarekat Syattariyah tidak menganggap dirinya sebagai cabang dari kelompok sufi mana pun. Tarekat ini dianggap sebagai suatu tarekat yang berdiri sendiri dan memiliki karakteristik dalam hal keyakinan dan pengamalan. Sementara itu, mengenai Sang tokoh, yakni Abdullah asy-Syattar, hanya sedikit riwayat yang dapat diketahui. Dalam Ensklopedi Islam, disebutkan bahwa Abdullah asy-Syattar ini kemungkinan besar dilahirkan di salah satu tempat di sekitar Bukhara [Samarkand]. Di sinilah, dia diresmikan menjadi anggota Tarekat Isqiyah oleh gurunya, Muhammad Arif. Namun, pada abad ke-15, populeritas Tarekat Isqiyah memudar karena perkembangan Tarekat Naqsayabandiyah yang berkembang sangat pesat di kawasan Asia Tengah. Karena itu Abdullah asy-Syattar memutuskan pindah ke India. Semula, ia tinggal di Jawnpur, kemudian pindah ke Mondu, sebuah kota Muslim di daerah Malwa [Multan]. Keputusan yang diambilnya ternyata tepat karena di sinilah akhirnya dia memperoleh populeritas dan berhasil mengembangkan Tarekat Syattariyah. Tidak diketahui, apakah perubahan nama dari Tarekat Isqiyah yang dianutnya semula ke Tarekat Syattariyah atas inisiatifnya sendiri yang ingin mendirikan tarekat baru sejak awal kedatangannya di India atau atas inisiatif murid-muridnya. Ia tinggal di India sampai akhir hayatnya pada tahun 1428 M.

Sepeninggal Abdullah asy-Syattar, Tarekat Syattariyah disebar luaskan oleh murid-muridnya. Salah seorang murid yang berperan dalam mengembangkan dan menjadikan Syattariyah sebagai tarekat yang berdiri sendiri adalah Muhammad Ghaus dari Gwalior [wafat 1526 Masehi]. Sampai akhir abad ke-16, tarekat ini telah memiliki pengaruh yang luas di India. Dari wilayah ini Tarekat Syattariyah terus berkembang ke Makkah, Madinah dan sampai pula di Indonesia.

SUFI INDIA

Tidak dapat dipungkiri bahwa penyebaran Tarekat Syattariyah keberbagai negara Islam ditunjang oleh kemasyhuran oleh para sufi India, sehingga hal itu menimbulkan daya tarik yang besar. Sejak abad ke-16 M s/d 18 M, banyak sufi India menetap di Makkah, Madinah, Irak, Iran, Turki dan Asia Tengah dan Asia Tenggara. Mereka berhasil menyebarkan ide-ide dan ajaran-ajaran yang dianutnya. Di antara para sufi itu adalah pengikut dan penganjur Tarekat Syattariyah. Salah seorang sufi terkemuka dari India yang mengajarkan Tarekat Syattariyah di Makkah dan Madinah adalah Sibgatullah bin Ruhullah [wafat tahun 1606 M]. Sementara itu, yang mempopulerkan Tarekat Syattariyah di negara-negara yang menggunakan bahasa Arab adalah Ahmad Sinhawi [wafat 1619 M], murid Sibgatullah. Salah seorang khalifahnya adalah Ahmad Qusasyi [1583-1661 M] yang berasal dari Palestina. Adapun tokoh penganjur Tarekat Syattariyah yang cukup terkenal di Madinah adalah Ibrahim al-Kurani [wafat tahun 1689 M] yang berasal dari Turki. Ibrahim al-Kurani tampil menggantikan Ahmad Qusasyi sebagai pemimpin tertinggi Tarekat Syattariyah. Dua orang tokoh yang disebut terakhir diatas, Ahmad Qusasyi dan Ibrahim al-Kurani, adalah guru Abdul Rauf Singkel yang mengembangkan Tarekat Syattariyah di Indonesia.

AJARAN DAN DZIKIR TAREKAT SYATTARIYAH

Bila menyebut ajaran sebuah tarekat, yang paling banyak diajarkan dalam ritualnya adalah dzikir. Dan dzikir adalah amalan yang paling utama dalam sebuah tarekat. Dalam sebuah Hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Ketahuilah bahwa sesungguhnya dzikir akan menenangkan hati. Sebaik-baik dzikir adalah dengan membaca 'Laa Ilaha Illa Allah'."
Karena itulah dzikir dan wirid untuk mendekatkan diri kepada Allah, menjadi hal paling utama dalam sebuah tarekat. Demikian halnya dengan Tarekat Syattariyah. Dalam ajaran dan ritualnya, tarekat ini juga banyak melafalkan kalimat-kalimat tauhid dan Asmaul-Husna sebagai bagian dari wirid dan dzikir. Para pengikut Tarekat ini akan mencapai tujuan-tujuan mistik [kesufian] melalui kehidupan dan asketisme dan zuhud. Untuk menjalaninya, seseorang terlebih dahulu harus mencapai tingkat kesempurnaan pada tingkat akhyar [orang-orang terpilih] serta menguasai rahasia-rahasia dzikir.

Tarekat Syattariyah percaya, bahwa jalan menuju Allah subhanahu wata'ala itu sebanyak gerak nafas makhluk, tetapi yang paling utama di antaranya adalah jalan yang ditempuh oleh kaum:
- Akhyar
- Abrar
- Syattar.
Ketiga kelompok tersebut memiliki metode masing-masing dalam berdzikir dan bermeditasi untuk mencapai intuisi ketuhanan, penghayatan dan kedekatan terhadap Allah subhanahu wata'ala.

-Kaum Akhyar melakukannya dengan menjalani shalat, puasa, membaca Al-Qur'an, menunaikan Haji dan berjihad.

- Kaum Abrar, menyibukkan diri dengan latihan-latihan jiwa dan latihan-latihan kehidupan zuhud yang keras, latihan ketahanan menderita, menghindari kejahatan dan menyucikan hati.

- Kaum Syattar: Menurut para tokoh Tarekat Syattariyah, jalan tercepat untuk sampai kepada Allah subhanahu wata'ala, adalah jalan yang ditempuh oleh kaum Syattar, karena mereka memperoleh bimbingan langsung oleh para wali.

Ada sepuluh tahapan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan dalam tarekat ini, yaitu:

1. Taubat
2. Zuhud
3. Tawakkal
4. Qana'ah
5. Uzlah
6. Muraqabah
7. Sabar
8. Ridha
9. Dzikir
10. Musyahadah [menyaksikan keindahan, kebesaran dan kemulian Allah subhanahu wata'ala].

Dzikir dalam Tarekat Syattariyah terbagi dalam tiga kelompok yang semuanya menitik beratkan pada pelafalan Asmaul-Husna [nama-nama Allah subhanahu wata'ala]. Ketiga kelompok tersebut menyebut nama-nama Allah subhanahu wata'ala yang berhubungan dengan keagungan-keagungan-Nya, menyebut nama-nama Allah subhanahu wata'ala yang berhubungan dengan keindahan-indahan-Nya, dan menyebut nama-nama Allah subhanahu wata'ala yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut. Para pengikut ajaran Tarekat Syattariyah meyakini bahwa menyebut nama-nama Allah subhanahu wata'ala yang berhubungan dengan keagungan-keagungan-Nya, akan menjadikan seseorang lebih tunduk kepada-Nya.

Nama-nama yang dimaksud adalah:
- al-Qahhar
- al-Jabbar
- al-Mutakabbir
Setelah merasakan dirinya semakin tunduk kepada Allah subhanahu wata'ala, seseorang dapat menyebut nama-nama Allah yang berhubungan dengan keindahan-keindahan-Nya, yaitu:
- al-Malik
- al-Quddus
- al-Alim.
Sedangkan nama-nama Allah yang berhubungan dengan sifat tersebut diatas adalah:
- al-Mukmin
- al-Muhaimin.
Runut dan diulang menurut aturan Tarekat Syattariyah, pelafalan dzikir dengan menyebut nama-nama Allah subhanahu wata'ala harus dilakukan secara berurutan. Artinya, terlebih dahulu menyebut nama-nama Allah subhanahu wata'ala yang berhubungan dengan keagungan-keagungan-Nya. Kemudian diikuti nama-nama yang berhubungan dengan keindahan-keindahan-Nya, dan nama-nama yang merupakan gabungan kedua sifat tersebut. Proses ini dilakukan terus menerus dan berulang-ulang hingga hati semakin bersih dan teguh dalam berdzikir. Apabila hati telah mencapai tahap seperti itu, ia dapat merasakan realitas segala sesuatu, baik yang bersifat jasmani maupun rohani.

Satu hal yang harus diingat adalah, bahwa dzikir hanya dapat dikuasai melalui bimbingan seorang guru atau syekh, pembimbing spiritual yang telah mencapai pandangan yang tajam mengenai rahasia-rahasia dzikir. Pembimbing spiritual ini adalah seorang yang telah mencapai pandangan yang membangkitkan realitas, tidak bersikap sombong dan tidak membukakan rahasia-rahasia pandangan bathinnya kepada orang yang tidak dipercaya, untuk menjalani dzikir dalam Tarekat Syattariyah, setidaknya ada sejumlah persyaratan penting yang harus dipenuhi, yaitu makanan yang dimakan haruslah berasal dari jalan yang halal, selalu berkata benar, rendah hati, sedikit makan dan bicara serta setia kepada guru atau syekhnya. Selain itu, konsentrasi hanya berpusat kepada Allah subhanahu wata'ala:
- Selalu berpuasa.
- Memisahkan diri dari kehidupan ramai.
- Berdiam diri disuatu rungan yang gelap dan bersih.
- Menundukkan hawa nafsu dengan penuh kerelaan kepada disiplin penyiksaan diri.
- Makan dan minum dari pelayan.

Persyaratan lainnya, adalah:
- Menjaga mata dari melihat sesuatu yang haram.
- Menjaga telinga dari mendengar hal-hal yang haram.
- Menjaga hidung dari mencium suatu yang haram.
- Membersihkan hati dari rasa dendam, cemburu dan bangga diri.
- Mematuhi aturan-aturan terlarang bagi seorang yang sedang menunaikan ibadah haji, seperti berhias dan memakai pakaian yang berjahit.

Dalam konteks psikologi, berbagai macam persyaratan ini dikenal sebagai bentuk aktualisasi diri [self actualizer] bagi murid atau seseorang yang meniti jalan ini.

Prof. Molana Hazrat Salaheddin Ali Nader Syah Angha, dalam tulisannya "Peace" menekankan bahwa ketika seorang salik mempelajari dan bertambah maju, ia secara bertahap mendapat nilai-nilai dan aspek-aspek yang telah digambarkan pada orang-orang yang telah menjadi self actualizer [aktualisasi diri]. Ia juga akan mengembangkan aspek tambahan lain dalam dirinya, yaitu karakteristik yang lebih maju, bahkan seorang salik yang progresif dapat digambarkan sebagai seorang 'super sehat' dalam jargon psikologi.
Prof. Angha juga menggambarkan, ketika seorang salik telah sepenuhnya telah memeluk apa yang tersebut diatas, ia akan meraih peringkat pada puncak pengabdian dan penghambaan; kata-kata dan tindakannya diperkuat dengan adanya cahaya Ilahi dan dia akan diberkahi. Karena menurutnya Allah subhanahu wata'ala telah berjanji sebagaimana firman-Nya:
"Allah pengurus bagi mereka yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pengurus mereka [ialah] thagut [syaitan dan apa-apa yang melewati batas] yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itulah penghuni neraka, mereka itu kekal padanya." [QS. Al-Baqarah 257].