Di Indonesia, terdapat banyak sekali aliran Tasawuf yang dikembangkan
melalui tarekat. Pengurus Besar Nahdhatul Ulama [PBNU], melalui
Jam'iyyah Ahlith-Thariqah Mu'tabarah An-Nahdhiyyah, mengakui bahwa ada
42 tarekat yang populer di Indonesia. Salah satunya adalah Tarekat
Syattariyah. Tarekat Syattariyah pertama kali muncul di Hindustan
[India] pada abad ke-15. Seperti tarekat lainnya, nama tarekat ini juga
dinisbatkan pada tokoh yang menjadi pembawa atau pelopornya, yakni Syekh
Abdullah asy-Syattar. Tarekat ini pernah menduduki posisi penting di
dunia Islam, karena pengaruhnya yang besar dan mendapatkan sambutan luas
dari masyarakat Muslim, termasuk di Indonesia. John L Esposito, dalam
Ensiklopedia: Dunia Islam Modern, menyatakan, meski di banyak negara
Muslim ajaran yang dibawa oleh, Abdullah asy-Syattar dikenal dengan nama
Tarekat Syattariyah; di beberapa tempat, seperti Iran dan kawasan
Transoxania [Asia Tengah], ia lebih di kenal dengan nama lain. Di kedua
wilayah ini, ajaran Abdullah asy-Syattar lebih dikenal dengan nama
''Isqiyah'' karena Abu Yazid al-Isqi dianggap sebagai tokoh utamanya.
Sedangkan, di wilayah Turki Utsmaniyah [Kerajaan Ottoman], tarekat ini
disebut ''Bistamiyah''. Dalam perkembangannya, Tarekat Syattariyah tidak
menganggap dirinya sebagai cabang dari kelompok sufi mana pun. Tarekat
ini dianggap sebagai suatu tarekat yang berdiri sendiri dan memiliki
karakteristik dalam hal keyakinan dan pengamalan. Sementara itu,
mengenai Sang tokoh, yakni Abdullah asy-Syattar, hanya sedikit riwayat
yang dapat diketahui. Dalam Ensklopedi Islam, disebutkan bahwa Abdullah
asy-Syattar ini kemungkinan besar dilahirkan di salah satu tempat di
sekitar Bukhara [Samarkand]. Di sinilah, dia diresmikan menjadi anggota
Tarekat Isqiyah oleh gurunya, Muhammad Arif. Namun, pada abad ke-15,
populeritas Tarekat Isqiyah memudar karena perkembangan Tarekat
Naqsayabandiyah yang berkembang sangat pesat di kawasan Asia Tengah.
Karena itu Abdullah asy-Syattar memutuskan pindah ke India. Semula, ia
tinggal di Jawnpur, kemudian pindah ke Mondu, sebuah kota Muslim di
daerah Malwa [Multan]. Keputusan yang diambilnya ternyata tepat karena
di sinilah akhirnya dia memperoleh populeritas dan berhasil
mengembangkan Tarekat Syattariyah. Tidak diketahui, apakah perubahan
nama dari Tarekat Isqiyah yang dianutnya semula ke Tarekat Syattariyah
atas inisiatifnya sendiri yang ingin mendirikan tarekat baru sejak awal
kedatangannya di India atau atas inisiatif murid-muridnya. Ia tinggal di
India sampai akhir hayatnya pada tahun 1428 M.
Sepeninggal Abdullah asy-Syattar, Tarekat Syattariyah disebar luaskan
oleh murid-muridnya. Salah seorang murid yang berperan dalam
mengembangkan dan menjadikan Syattariyah sebagai tarekat yang berdiri
sendiri adalah Muhammad Ghaus dari Gwalior [wafat 1526 Masehi]. Sampai
akhir abad ke-16, tarekat ini telah memiliki pengaruh yang luas di
India. Dari wilayah ini Tarekat Syattariyah terus berkembang ke Makkah,
Madinah dan sampai pula di Indonesia.
SUFI INDIA
Tidak dapat dipungkiri bahwa penyebaran Tarekat Syattariyah keberbagai
negara Islam ditunjang oleh kemasyhuran oleh para sufi India, sehingga
hal itu menimbulkan daya tarik yang besar. Sejak abad ke-16 M s/d 18 M,
banyak sufi India menetap di Makkah, Madinah, Irak, Iran, Turki dan Asia
Tengah dan Asia Tenggara. Mereka berhasil menyebarkan ide-ide dan
ajaran-ajaran yang dianutnya. Di antara para sufi itu adalah pengikut
dan penganjur Tarekat Syattariyah. Salah seorang sufi terkemuka dari
India yang mengajarkan Tarekat Syattariyah di Makkah dan Madinah adalah
Sibgatullah bin Ruhullah [wafat tahun 1606 M]. Sementara itu, yang
mempopulerkan Tarekat Syattariyah di negara-negara yang menggunakan
bahasa Arab adalah Ahmad Sinhawi [wafat 1619 M], murid Sibgatullah.
Salah seorang khalifahnya adalah Ahmad Qusasyi [1583-1661 M] yang
berasal dari Palestina. Adapun tokoh penganjur Tarekat Syattariyah yang
cukup terkenal di Madinah adalah Ibrahim al-Kurani [wafat tahun 1689 M]
yang berasal dari Turki. Ibrahim al-Kurani tampil menggantikan Ahmad
Qusasyi sebagai pemimpin tertinggi Tarekat Syattariyah. Dua orang tokoh
yang disebut terakhir diatas, Ahmad Qusasyi dan Ibrahim al-Kurani,
adalah guru Abdul Rauf Singkel yang mengembangkan Tarekat Syattariyah di
Indonesia.
AJARAN DAN DZIKIR TAREKAT SYATTARIYAH
Bila menyebut ajaran sebuah tarekat, yang paling banyak diajarkan dalam
ritualnya adalah dzikir. Dan dzikir adalah amalan yang paling utama
dalam sebuah tarekat. Dalam sebuah Hadits, Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda:
"Ketahuilah bahwa sesungguhnya dzikir akan menenangkan hati. Sebaik-baik dzikir adalah dengan membaca 'Laa Ilaha Illa Allah'."
Karena itulah dzikir dan wirid untuk mendekatkan diri kepada Allah,
menjadi hal paling utama dalam sebuah tarekat. Demikian halnya dengan
Tarekat Syattariyah. Dalam ajaran dan ritualnya, tarekat ini juga banyak
melafalkan kalimat-kalimat tauhid dan Asmaul-Husna sebagai bagian dari
wirid dan dzikir. Para pengikut Tarekat ini akan mencapai tujuan-tujuan
mistik [kesufian] melalui kehidupan dan asketisme dan zuhud. Untuk
menjalaninya, seseorang terlebih dahulu harus mencapai tingkat
kesempurnaan pada tingkat akhyar [orang-orang terpilih] serta menguasai
rahasia-rahasia dzikir.
Tarekat Syattariyah percaya, bahwa jalan menuju Allah subhanahu wata'ala
itu sebanyak gerak nafas makhluk, tetapi yang paling utama di antaranya
adalah jalan yang ditempuh oleh kaum:
- Akhyar
- Abrar
- Syattar.
Ketiga kelompok tersebut memiliki metode masing-masing dalam berdzikir
dan bermeditasi untuk mencapai intuisi ketuhanan, penghayatan dan
kedekatan terhadap Allah subhanahu wata'ala.
-Kaum Akhyar melakukannya dengan menjalani shalat, puasa, membaca Al-Qur'an, menunaikan Haji dan berjihad.
- Kaum Abrar, menyibukkan diri dengan latihan-latihan jiwa dan
latihan-latihan kehidupan zuhud yang keras, latihan ketahanan menderita,
menghindari kejahatan dan menyucikan hati.
- Kaum Syattar: Menurut para tokoh Tarekat Syattariyah, jalan tercepat
untuk sampai kepada Allah subhanahu wata'ala, adalah jalan yang ditempuh
oleh kaum Syattar, karena mereka memperoleh bimbingan langsung oleh
para wali.
Ada sepuluh tahapan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan dalam tarekat ini, yaitu:
1. Taubat
2. Zuhud
3. Tawakkal
4. Qana'ah
5. Uzlah
6. Muraqabah
7. Sabar
8. Ridha
9. Dzikir
10. Musyahadah [menyaksikan keindahan, kebesaran dan kemulian Allah subhanahu wata'ala].
Dzikir dalam Tarekat Syattariyah terbagi dalam tiga kelompok yang
semuanya menitik beratkan pada pelafalan Asmaul-Husna [nama-nama Allah
subhanahu wata'ala]. Ketiga kelompok tersebut menyebut nama-nama Allah
subhanahu wata'ala yang berhubungan dengan keagungan-keagungan-Nya,
menyebut nama-nama Allah subhanahu wata'ala yang berhubungan dengan
keindahan-indahan-Nya, dan menyebut nama-nama Allah subhanahu wata'ala
yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut. Para pengikut ajaran
Tarekat Syattariyah meyakini bahwa menyebut nama-nama Allah subhanahu
wata'ala yang berhubungan dengan keagungan-keagungan-Nya, akan
menjadikan seseorang lebih tunduk kepada-Nya.
Nama-nama yang dimaksud adalah:
- al-Qahhar
- al-Jabbar
- al-Mutakabbir
Setelah merasakan dirinya semakin tunduk kepada Allah subhanahu
wata'ala, seseorang dapat menyebut nama-nama Allah yang berhubungan
dengan keindahan-keindahan-Nya, yaitu:
- al-Malik
- al-Quddus
- al-Alim.
Sedangkan nama-nama Allah yang berhubungan dengan sifat tersebut diatas adalah:
- al-Mukmin
- al-Muhaimin.
Runut dan diulang menurut aturan Tarekat Syattariyah, pelafalan dzikir
dengan menyebut nama-nama Allah subhanahu wata'ala harus dilakukan
secara berurutan. Artinya, terlebih dahulu menyebut nama-nama Allah
subhanahu wata'ala yang berhubungan dengan keagungan-keagungan-Nya.
Kemudian diikuti nama-nama yang berhubungan dengan
keindahan-keindahan-Nya, dan nama-nama yang merupakan gabungan kedua
sifat tersebut. Proses ini dilakukan terus menerus dan berulang-ulang
hingga hati semakin bersih dan teguh dalam berdzikir. Apabila hati telah
mencapai tahap seperti itu, ia dapat merasakan realitas segala sesuatu,
baik yang bersifat jasmani maupun rohani.
Satu hal yang harus diingat adalah, bahwa dzikir hanya dapat dikuasai
melalui bimbingan seorang guru atau syekh, pembimbing spiritual yang
telah mencapai pandangan yang tajam mengenai rahasia-rahasia dzikir.
Pembimbing spiritual ini adalah seorang yang telah mencapai pandangan
yang membangkitkan realitas, tidak bersikap sombong dan tidak membukakan
rahasia-rahasia pandangan bathinnya kepada orang yang tidak dipercaya,
untuk menjalani dzikir dalam Tarekat Syattariyah, setidaknya ada
sejumlah persyaratan penting yang harus dipenuhi, yaitu makanan yang
dimakan haruslah berasal dari jalan yang halal, selalu berkata benar,
rendah hati, sedikit makan dan bicara serta setia kepada guru atau
syekhnya. Selain itu, konsentrasi hanya berpusat kepada Allah subhanahu
wata'ala:
- Selalu berpuasa.
- Memisahkan diri dari kehidupan ramai.
- Berdiam diri disuatu rungan yang gelap dan bersih.
- Menundukkan hawa nafsu dengan penuh kerelaan kepada disiplin penyiksaan diri.
- Makan dan minum dari pelayan.
Persyaratan lainnya, adalah:
- Menjaga mata dari melihat sesuatu yang haram.
- Menjaga telinga dari mendengar hal-hal yang haram.
- Menjaga hidung dari mencium suatu yang haram.
- Membersihkan hati dari rasa dendam, cemburu dan bangga diri.
- Mematuhi aturan-aturan terlarang bagi seorang yang sedang menunaikan
ibadah haji, seperti berhias dan memakai pakaian yang berjahit.
Dalam konteks psikologi, berbagai macam persyaratan ini dikenal sebagai
bentuk aktualisasi diri [self actualizer] bagi murid atau seseorang yang
meniti jalan ini.
Prof. Molana Hazrat Salaheddin Ali Nader Syah Angha, dalam tulisannya
"Peace" menekankan bahwa ketika seorang salik mempelajari dan bertambah
maju, ia secara bertahap mendapat nilai-nilai dan aspek-aspek yang telah
digambarkan pada orang-orang yang telah menjadi self actualizer
[aktualisasi diri]. Ia juga akan mengembangkan aspek tambahan lain dalam
dirinya, yaitu karakteristik yang lebih maju, bahkan seorang salik yang
progresif dapat digambarkan sebagai seorang 'super sehat' dalam jargon
psikologi.
Prof. Angha juga menggambarkan, ketika seorang salik telah sepenuhnya
telah memeluk apa yang tersebut diatas, ia akan meraih peringkat pada
puncak pengabdian dan penghambaan; kata-kata dan tindakannya diperkuat
dengan adanya cahaya Ilahi dan dia akan diberkahi. Karena menurutnya
Allah subhanahu wata'ala telah berjanji sebagaimana firman-Nya:
"Allah pengurus bagi mereka yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari
kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pengurus mereka [ialah]
thagut [syaitan dan apa-apa yang melewati batas] yang mengeluarkan
mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itulah penghuni neraka,
mereka itu kekal padanya." [QS. Al-Baqarah 257].